Menghindari Pembajakan Karyawan dengan Pelatihan

Banyak perasahaan pernah dirugikan. Setelah mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk mendidik karyawannya, si karyawan malahan tergiur pindah ke perusaha-an lain. Tapi sebenarnya pelatihan bisa pula berperan untuk mengurangi kemungkinan pembajakan.

Tenaga kerja yang trampil, yang profesional, kini makin menjadi incaran. Mereka makin dipereb’utkan dan menjadi obyek pembajakan antar perusahaan. Keberhasilan pembajakan tenaga kerja atau manajer biasanya didukung oleh adanya ketidakpuasan dari si karyawan yang bersangkutan di perusahaannya semula.

Tidak jarang perusahaan yang telah berjerih-payah dan mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk melatih karyawannya akhirnya merasa sangat dirugikan. Pengorbanan yang diberikan menjadi sia-sia. Perusahaan merasakan akibat yang sangat menyakitkan karena karyawan yang telah dilatihnya begitu saja pindah ke perusahaan lain. Meskipun demikian, upaya mengadakan pelatihan (training) merupakan suatu yang tidak dapat dihindarkan. Continue reading

Headhunter dan Pembajakan Karyawan

Problem pembajakan tenaga kerja ma-kin terasa. Berbagai faktor di dalam dan di luar perusahaan memungkinkan gejala tersebut makin berkembang. Bagaimana cara menanggulanginya? “Ikatan hukum kurang kuat dibandingkan dengan ikatan batin,” kata seorang pakar.

Joko Sudibyo, seorang eksekutif pabrik pelat baja, PT Cold Rolling Mill Indonesia (CRMI), melontarkan keluh kesah. CRMI, pabrik yang berteknologi cukup tinggi ini, kini berkaryawan sekitar 2.000. Dari jumlah tersebut, 230 karyawan sempat dikirim ke luar negeri untuk diikutsertakan dalam berbagai latihan, dengan jangka waktu bervariasi antara 6 sampai 18 bulan.

Namun Djoko sekarang kesal karena perilaku tenaga profesional yang dikatakannya bersikap mirip “bajing Ioncat”. Tidak sedikit karyawan CRMI yang sekembali dari latihan justru hengkang dari pekerjaannya. Padahal tenaga yang rata-rata sarjana tadi sudah mengikat kontrak untuk bekerja paling sedikit selama 5 tahun, dan bila ingkar, mereka harus mengganti kerugian pada perusahaan antara Rp.15 sampai 18 juta. Continue reading

Slide1