Menyusun Rencana Distribusi Barang yang Efisien dan Efektif

Dalam pemasaran, setelah suatu produk dirancang dan dipromosikan, maka tentu harus ada perencanaan soal bagaimana produk tersebut akan bisa diraih oleh masyarakat. Hal ini disebut perencanaan distribusi.

Perencanaan distribusi adalah pembuatan keputusan sistematik yang berkaitan dengan pergerakan fisik dan transfer kepemilikan produk dari produsen ke konsumen.

Misalnya: sebuah perusahaan pembuat produk makanan yang mudah meleleh seperti es krim harus memikirkan bagaimana cara menyimpan produknya ketika belum dipasarkan agar tetap bagus dan tak meleleh, bagaimana mengirimkannya ke berbagai toko di seluruh Indonesia dengan menggunakan kendaraan khusus, dan akhirnya bagaimana serta dimana menjualnya.

Kegiatan distribusi yang direncanakan harus meliputi aspek penyimpanan sebelum dipasarkan, transportasinya, serta transaksinya ketika pelanggan hendak membelinya. Semua proses ini dilakukan dalam suatu fungsi yang disebut jalur distribusi. Sedangkan orang-orang yang menanganinya disebut channel members atau middle men.

Semua hal ini harus dipikirkan agar jalur distribusi tidak terhambat dan produk bisa dikirimkan ke berbagai saluran distribusi tepat waktu, untuk memenuhi permintaan konsumen.

Strategi Pushing dan Pulling
Stragegi pushing dan pulling dalam jalur distribusi menggambarkan dua macam gaya yang berbeda dalam hal penerapan jalur distribusi oleh produsen. Kedua gaya ini berkaitan dengan strategi untuk memasarkan produk dengan cara yang lebih efisien.

Dalam strategi pushing, produsen membuat produk dalam jumlah tertentu lalu langsung melibatkan channel members untuk memasarkannya kepada konsumen, dimana di sini produsen memberi target penjualan untuk si channel members.

Sementara itu, dalam strategi pulling, produsen mengiklankan dulu produknya ke masyarakat, sehingga kemudian muncullah permintaan dari masyarakat kepada channel members agar menghadirkan produk yang diinginkan masyarakat tersebut.

Akan tetapi, selain strategi pushing dan pulling, ada juga faktor lain yang diperhitungkan yaitu intensitas dari promosi kanal distribusi tergantung jenis produk dan target konsumennya. Hal ini akan dibahas dalam lembar berikutnya.

Ada tiga jenis sifat saluran distribusi yaitu: Distribusi Eksklusif, Distribusi Selektif dan Distribusi Intensif, masing-masing memiliki karakteristik berbeda dalam tiap aspeknya.

• Obyektifitas: distribusi eksklusif menekankan prestise dan kesetiaan konsumen, distribusi selektif menekankan citra produk yang cukup bagus dan solid meski tidak terlalu eksklusif, dan distribusi intensif lebih menekankan pada pemasaran seluas-luasnya.

• Channel Members: distribusi eksklusif punya sedikit saja channel members yang dipilih dengan ketat, distribusi selektif punya lebih banyak tetapi terbatas, dan distribusi intensif memanfaatkan channel members sebanyak-banyaknya.

• Pelanggan: distribusi eksklusif punya sedikit pelanggan tapi setia dan rela pergi jauh untuk mendapatkan produk, distribusi selektif punya lebih banyak pelanggan tapi hanya dari kalangan tertentu yang setia pada merk ternama, dan distribusi intensif punya lebih banyak pelanggan serta tak suka repot-repot atau mengeluarkan terlalu banyak uang.

Distribusi eksklusif misalnya melibatkan distribusi gaun adibusana, distribusi selektif misalnya melibatkan distribusi produk berkualitas namun cenderung banyak dibutuhkan seperti perabot rumah, dan distribusi intensif misalnya produk sabun dan pasta gigi.

Berikut adalah lanjutan dari ketiga poin sebelumnya, yaitu sifat-sifat dari karakteristik saluran distribusi:

• Penenakan pada pemasaran: Distribusi Eksklusif menekankan kondisi belanja yang nyaman dan pelayanan maksimal, distribusi selektif menekankan lebih banyak promosi produk di satu tempat tetapi kondisi belanja dan pelayanan tetap bagus, dan distribusi intensif menekankan pemasaran banyak barang di satu tempat.

• Kerugian: distribusi eksklusif hanya bisa memeroleh potensi penjualan sedikit, distribusi selektif menimbulkan kesulitan dalam hal memperkenalkan produk jenis baru, dan distribusi intensif menimbulkan kesulitan dalam hal pengendalian kanal distribusi.

Contoh: seperti yang sudah disebutkan, distribusi eksklusif melibatkan produk yang sangat sulit didapat dan mahal seperti gaun adibusana atau makanan mewah seperti kaviar, lalu distribusi selektif melibatkan produk seperti pakaian dari merk ternama (bukan adibusana) atau perabot rumah, dan distribusi intensif melibatkan barang kebutuhan sehari-hari.

Slide1

Slide1