Artikel Terlengkap tentang Cara Membangun Teamwork dan Leadership Skills

Setelah merancang visi dan menentukan sasaran, apa lagi yang mesti dilakukan? Telah disebut di atas bahwa hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengembangkan rencana aksi (developing action plan). Apa artinya sasaran dan visi tanpa aksi?

Justru di sini, aksi adalah sesuatu yang konkrit, yang berjalan berdasarkan tujuan yang dibentuk, yang pada gilirannya berhulu pada visi yang termuat. Jadi pada intinya kita akan menemukan sebuah alur di mana ada visi kemudian dibarengi oleh tujuan, dan terakhir dijewantahkan melalu aksi. Tanpa aksi yang kontrit, tujuan takkan tercapai. Sama halnya seperti: tanpa visi yang memuaskan, orang akan kesulitan menentukan tujuan.

Ada timbal balik berbentuk segitiga di antara visi, sasaran, dan aksi. Sebagai seorang kreator visi, pemimpin dituntut untuk beraksi, dalam arti ia harus mampu mengimplementasikan segala hal yang sudah tertulis melalui visi maupun yang sudah ditetapkan melalui sasaran-sasaran tertentu.

Skema rancangan aksi harus dibuat sedetil mungkin, meliputi semua hal yang harus dijangkau oleh kerja/proyek tertentu. Dengan kata lain, jika anda terlibat dalam sebuah proyek organisasi, misalnya, di mana sasaran dan visi telah ditetapkan, timeline yang merekam kemajuan proyek harus dibuat. Sebab timeline akan mencatat segala hal yang harus dikerjakan dan akan dikerjakan.

Jadi, secara teknis rancangan rencana aksi merupakan panduan yang mencatat segala hal yang telah dilakukan. Pemimpin perlu mengontrol rencana aksi hingga ia mampu mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.

Secara singkat, developing action plan mesti mencakup tiga hal sebagai berikut:

1) Action plan adalah rangkaian tindakan untuk meraih target kinerja tertentu. Ia juga bisa menjadi semacam bahan yang bagus untuk melakukan evaluasi.
2) Action plan, di sisi lain, haruslah mengejawantah dalam bentuknya yang konkrit. Ia harus mampu merangkum rangkaian program dalam catatan yang jelas dan terukur. Akurasi dan ketepatan waktu menjadi penting.
3) Action plan memandu pemimpin untuk menentukan prioritas dari tindakan-tindakan yang perlu dilakukan di masa depan.

Sebagai bahan evaluasi, action plan adalah hal konkrit. Ia bisa digunakan seorang pemimpin untuk mengontrol kemajuan kinerja, sekaligus sebagai bahan untuk menilai apakah kinerja sudah sesuai dengan visi dan tujuan atau tidak.

Dengan demikian, seorang pemimpin yang visioner tidak boleh melupakan rencana aksi. Karena di sanalah segala sesuatu yang abstrak terkait dengan visi dan sasaran akan ditejermahkan ke dalam hal-hal konkrit.

JIka visi adalah panduan, tujuan adalah ketetapan, dan kemudian, action plan menjadi sebuah poin krusial yang mesti dipikirkan oleh pemimpin. Setelahnya, kita akan berbicara mengenai memonitor eksekusi rencana yang akan dijalankan berdasarkan aksi tertentu. Rencana aksi harus diawasi, sehingga pemimpin bisa mengambil langkah yang efektif terkait dengan aksi tertentu.

Fungsi Pengawasan sebagai Hal Laten
Dalam rantai pembahasan mengenai pemimpin sebagai vision creator, orang bisa menemukan visi, tujuan, dan aksi. Ketiganya merupakan segitiga yang berkaitan satu sama lain. Kali ini akan dibicarakan mengenai aksi yang merupakan fase di mana visi dan sasaran diterapkan melalui serangkaian tindakan-tindakan tertentu (bisa jadi mereka – tindakan itu – diterjemahkan melalui proyek, kerja, dan lain sebagainya).

Jadi, aksi terkait juga dengan eksekusi rencana yang rancangannya telah dibentuk dan diciptakan oleh pemimpin. Sebelumnya kita telah berbicara tentang detil yang harus diperlihatkan dalam rancangan aksi, meliputi semua hal yang telah dikerjakan dalam sebuah kerja panjang. Tentu saja hal berikutnya yang harus dipikirkan adalah fungsi pengawasan (monitoring) yang intinya sangat krusial juga dalam menopang kinerja.

Fungsi pengawasan merupakan sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dalam sebuah organisasi di mana struktur kerja menjadi sesuatu yang bersifat laten, pengawasan menjadi sangat krusial – di samping visi dan dan penetapan sasaran-sasaran. Fungsi pengawasan biasanya dibutuhkan ketika aksi mulai dieksekusi, dengan tujuan untuk mengatur supaya sebuah proyek mampu mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, dan juga selaras dengan visi yang telah dibentuk oleh seorang pemimpin.

Fungsi pengawasan dijalankan dengan tetap berpedoman kepada dua hal, yakni sasaran dan visi. Dalam fase pengawasan, pemimpin akan mengeksekusi serangkaian rencana aksi (action plan) dan ikut mengawasi kemajuan. Jika terdapat kesalahan, pemimpin harus segera memikirkan bagaimana cara mengantisipasinya.

Fungsi pengawasan, dengan demikian, menjadi sangat krusial dalam sebuah organisasi. Eksekusi rencana aksi merupakan buah di mana visi dan sasaran-sasaran menemukan bentuknya yang konkrit. Oleh karena itu, segala daya harus dikerahkan supaya hasil dari eksekusi tidak melenceng dari tujuan. Dalam rangkaian pembahasan mengenai pemimpin sebagai vision creator, pengawasan menjadi satu hal yang menempati posisi pada bagian hilir.

Inilah saat di mana pemimpin mesti bertindak cerdas, dan menjaga agar eksekusi rencana aksi tidak melenceng dari garis yang telah ditetapkan oleh visi. Tentu saja, apa yang juga penting dari fungsi pengawasan adalah kemampuan pemimpin untuk mengorganisasi banyak orang. Karenanya, fungsi pengawasan juga berarti tuntutan yang mengharuskan seorang pemimpin menggerakkan banyak orang untuk mencapai tujuan-tujuan.

Dengan kata lain, ini adalah soal bagaimana pemimpin memakai sumber daya-sumber daya yang ada secara efisien, dan kemudian mengawasi pemakaian sumber daya yang pada hakikatnya berhubungan dengan anggota/orang-orang yang memakai hal tersebut.

Ketidakmampuan seorang pemimpin dalam memakai fungsi pengawasan secara maksimal akan berakibat fatal: proyek tidak berjalan atau hasilnya tidak sesuai harapan. Karena itu penting bagi seorang pemimpin untuk menyadari berbagai macam hambatan yang mungkin muncul sebelum rencana aksi dieksekusi. Memprediksi hambatan dan menyediakan sarana untuk menanggulanginya akan membantu pemimpin bekerja secara efisien.

Pemimpin Sebagai Pembentuk Tim
Setelah membicarakan panjang lebar mengenai peran pemimpin sebagai vision creator, sekarang saatnya untuk mengalihkan pandangan ke tugas pemimpin sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pembentukan tim. Ini merupakan salah satu fungsi yang cukup krusial dalam sebuah organisasi.

Artinya, apalah artinya visi dan sasaran-sasaran tanpa orang-orang yang mau membantu untuk mencapai kedua hal tersebut? Karena itulah, pemimpin sebagai seorang yang dipercaya dan memiliki pengetahuan yang mumpuni harus mampu memilih orang-orang yang tepat, yang mampu berdiri di sekitarnya dan mampu membantu pemimpin menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Jika pemimpin adalah setir, di mana visi menjadi mesinnya, maka gigi dan rodanya adalah orang-orang yang berada di sekitar pemimpin.

Karenanya dalam kerangka memilih roda dan gigi yang berkualitas, pemimpin harus mampu memilih orang-orang yang tepat, orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menempati posisi tersebut. Tanpa orang-orang yang tepat, organisasi takkan mampu berkembang secara maksimal, tidak mampu memenuhi visinya sendiri, dan takkan mampu mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

Orang-orang yang bekerja di bawah pemimpin merupakan sumber daya, bukan alat. Oleh karena itu seorang pemimpin dituntut untuk menghadirkan sumber daya terbaik yang mampu mencapai tujuan bersama-sama sesuai yang telah ditetapkan oleh pemimpin. Tanpa kesadaran semacam ini, tampaknya mustahil bagi pemimpin untuk beringsut maju bersama organisasinya. Dengan kata lain, pemimpin harus mampu mencari anak buah yang memang mampu membantunya mencapai visi di dalam kepalanya.

Seorang pemimpin harus mampu bertindak secara efektif dan efisien. Bekerja secara efektif dan efisien berarti ia harus menentukan sasaran yang jelas, membuat indikator kinderja yang jelas, dan menciptakan aturan kerja sejelas-jelasnya. Setelah ketiga hal tersebut dirancang, kini pemimpin harus mencari orang-orang untuk mengisi posisi yang tepat.

Dalam sebuah tim kerja, pemimpin harus memastikan bahwa ia memiliki a great team. Artinya ia harus mampu membentuk tim dengan semangat dan identitas yang jelas. Sebuah tim yang dibentuk juga harus memiliki sense of enjoyment dan fun. Selain hal-hal tersebut, seorang pemimpin juga harus memastikan bahwa komunikasi dalam tim bisa selalu jujur dan terbuka.

Ya, esensi dalam sebuah organisasi adalah kerja tim. Pemimpin adalah sebuah pemicu belaka, ia takkan berarti apa-apa tanpa kehadiran orang-orang yang bekerja bersamanya. Dalam kerangka pembentukan tim, seorang pemimpin harus menyadari fungsionalitas orang-orang, dan bagaimana ia bekerja bersama mereka demi mencapai sebuah tujuan dengan semangat tertentu.

Tahu apa yang dilakukan, mampu bekerja bersama dengan efektivitas dan efisiensi yang mumpuni, keduanya merupakan syarat yang mesti dipenuhi oleh seorang pemimpin, terutama ketika ia sedang berusaha membentuk tim yang sesuai dengan visi dan tujuan organisasi. Ketidakmampuan dalam memilih orang-orang yang tepat merupakan kemunduran.

Fungsi Pemimpin Sebagai team Builder
Seringkali orang mengeluh bahwa pemimpinnya tidak mampu bekerja, atau mengeluh karena pemimpinnya terlalu otoriter.

Jika seorang pemimpin mendengar gosip-gosip semacam ini, maka mungkin ini adalah petanda bahwa seorang pemimpin harus bekerja sebaik-baiknya, mengevaluasi kinerjanya sendiri, dan memperbaiki kekakuan hubungan bawahan dan atasan. Sebagai team builder, pemimpin memang memiliki tugas untuk mencari orang-orang yang tepat untuk mengisi posisi tertentu. Hanya saja, ini tidak berhenti bahwa tugas seorang pemimpin berhenti pada tataran perekrutan.

Justru yang paling penting adalah posisi pemimpin paska proses perekrutan tersebut. Jika proses perekrutan adalah momen di mana pemimpin harus mendapatkan orang-orang yang tepat, maka setelah proses tersebut seorang pemimpin harus memelihara komunikasi dengan anak buahnya secara intens.

Kegagalan untuk berkomunikasi dengan bawahan akan membuat jurang perbedaan yang lebar, antara pimpinan dan bawahan. Dengan demikian, ini akan berdampak buruk terhadap kinerja organisasi. Apa yang menjadi penting kemudian adalah “komunikasi”.

Seorang pemimpin yang otoriter tidak dibutuhkan. Namun pemimpin yang mampu bersikap tegas, santai, sambil tetap bisa menjaga rasionya adalah pemimpin yang dibutuhkan. Kategori terakhir ini biasanya merupakan tipikal pemimpin yang memang mampu menjaga komunikasi dengan anak buahnya sebaik mungkin. Pemimpin adalah seorang individu yang punya kemampuan untuk mempersatukan berbagai macam elemen. Oleh karena itu, ia harus mampu menjaga komunikasi dengan anak buahnya.

Suara-suara sumbang yang mengkritik pemimpin, misalnya yang berasal dari gosip-gosip di antara anak buah mungkin takkan muncul jika pemimpin memang mampu menjalankan proses komunikasi dengan baik. Manajemen komunikasi, dengan demikian, merupakan hal krusial yang menopang fungsi pemimpin sebagai team leader. Berbicara tentang fungsi, orang tidak boleh berhenti di situ saja. Dengan kata lain, fungsi seorang pemimpin harus diperinci lagi. Lalu, apakah sebenarnya fungsi pemimpin?

Paling tidak, hal ini bisa dirinci ke dalam beberapa elemen, yakni:

1) Mempererat spirit dan kebersamaan tim. Ini adalah hal pertama dan merupakan fungsi yang paling krusial. Sebuah tim yang tidak harmonis hanya akan menghambat organisasi untuk mencapai sebuah tujuan tertentu seperti yang telah digariskan oleh visi organisasi.

2) Mendorong penyelesaian tugas secara berkelompok. Intinya adalah musyawarah. Walaupun benar bahwa pemimpin adalah penentu dan pengambil keputusan dalam sebuah tugas, namun sebelum mengambil keputusan ia harus percaya bahwa segala keputusan nantinya harus diambil berdasarkan kesepakatan kelompok dan negosiasi. Masalah yang muncul juga harus diselesaikan sesuai dengan kesepakatan kelompok.

3) Fungsi berikut yang harus dijalankan oleh pemimpin adalah loyalitas, baik terhadap organisasi maupun terhadap anak buahnya.

4) Fungsi seorang pemimpin adalah membantu anak buah untuk berkembang. Jadi di sini seorang pemimpin dituntut untuk membantu anggota tim dalam menghadapi masalah apapun.

5) Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kepedulian terhadap anggotanya.

Pemimpin sebagai Pemelihara Semangat Tim
Setelah membahas tentang lima fungsi pemimpin, sekarang saatnya untuk membahas kelimanya. Hal pertama yang ingin dibahas di sini adalah fungsi pemimpin sebagai pemelihara semangat tim. Kenapa kita harus berbicara tentang fungsi tersebut? Tidak lain karena setiap kepala memiliki masalah dan egonya masing-masing.

Maksudnya adalah, seorang pemimpin harus menyadari bahwa para anggota tim yang tergabung memiliki ego masing-masing yang tentu saja kadang tidak sejalan dengan seorang pemimpin. Belum lagi bila kita berbicara tentang semangat masing-masing individu yang bisa saja padam. Oleh karena itu, semangat sebuah tim harus dipelihara, dan setidaknya pemimpin merupakan orang yang bisa memelihara semangat semacam itu. Ini bukan hanya tentang semangat tim, melainkan juga soal yang lain, yakni bagaimana semangat itu bisa memupuk kebersamaan tim.

Jadi, hal pertama yang perlu dipahami adalah: dari semangat yang dipupuk di sebuah tim, sebuah organisasi akan solid, karena orang-orang di dalamnya mampu berjalan bersama-sama mencapai tujuan. Ketika ada sebuah masalah di dalam tim terkait dengan proyek-proyek yang tengah dijalankan, yang paling penting untuk dipahami adalah bagaimana memperlihatkan sikap yang pas.

Seorang pemimpin, yang ketika masalah hadir hanya mampu bersikap otoriter, adalah seburuk-buruknya pemimpin. Pemimpin bergaya semacam itu umumnya hanya mampu bersikap direktif, hanya mau dan mampu memberi perintah. Jelas tipe pemimpin direktif bukan merupakan solusi yang baik bagi anak buah dan bagi organisasi secara keseluruhan.

Meskipun begitu, jangan keliru mencampuradukkan sikap tegas dan otoriter. Sikap tegas tetap diperlukan, sejauh ini terkait dengan anak buah bermasalah yang tidak mampu mencapai target yang dibebankan kepadanya. Dalam sebuah proses komunikasi, wibawa tetap diperlukan supaya pemimpin dihormati oleh anak buah. Wibawa juga diperlukan supaya semangat tim tetap terjaga.

Anak buah tentu saja lebih senang memiliki pemimpin yang berwibawa, bukan begitu? Ada banyak contoh di mana seorang pemimpin tidak mampu menjaga wibawanya, yang akibatnya akan dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Wibawa, pancaran aura kepemimpinan, atau ketegasan masih lebih baik dibandingkan yang akhirnya akan memadamkan semangat tim dan mematahkan harmoni secara keseluruhan. Pertanyaannya: bagaimana cara memelihara semangat dan kebersamaan tim?

Mudah saja, dan lagipula ada banyak cara yang memang harus dilakukan. Salah satu cara yang layak untuk anda lakukan dengan melakukan aktivitas tim yang menyenangkan, secara reguler. Seorang pemimpin bisa membawa anak buahnya ke pantai pasir putih di mana saja, di mana setiap orang bisa menjalin kebersamaan tanpa sekat dan beraktivitas dengan cara yang lebih menyenangkan disbanding sebelumnya.

Tentu ada cara lain yang bisa dilakukan, namun ini adalah salah satu cara mempererat kebersamaan yang mudah untuk diaplikasikan kapanpun. Jika anda adalah seorang pemimpin, anda layak mempertimbangkannya.

Slide1

Slide1