Cara Menetapkan Sasaran Kinerja Team atau Goal Setting dalam Leadership Skills

Setelah visi, sekarang saat untuk beranjak dan menuju kepada perbincangan tentang tujuan/sasaran sebuah organisasi. Seperti yang telah dilihat di atas, sasaran/tujuan bisa ditetapkan berdasarkan visi yang telah terbentuk sebelumnya. Karenanya bisa dibilang bahwa jika visi adalah jantung, maka sasaran/tujuan adalah langkahnya.

Sebuah organisasi bisa dikatakan “berhasil” jika ia memang mampu menerjemahkan visi keorganisasian dengan baik, yang sebetulnya bisa dilihat melalui penetapan sasaran-sasaran dan bagaimana nantinya sasaran itu, apakah terwujud atau tidak. Inilah soalnya.

Namun tentu saja di sini tidak perlu berbicara lagi panjang lebar mengenai visi dan bagaimana ia terbentuk. Yang perlu dibicarakan di sini adalah bagaimana menetapkan sasaran-sasaran. Apa saja yang mesti dipertimbangkan ketika menetapkan sasaran.

Penetapan sasaran adalah soal klasik. Anda harus menetapkan sasaran ketika membuat sebuah proyek. Anda harus menetapkan sasaran ketika membuat karya tugas akhir di universitas. Sasaran adalah soal bagaimana ide-ide dan proyek anda tepat guna dan memang berguna bagi mereka yang merasakannya. Selain itu, sasaran adalah juga tentang keselarasan antara ia dan visi yang diembannya.

Setidaknya ada empat karakter yang perlu diketahui ketika menetapkan sasaran-sasaran tertentu.

Mereka adalah: kesulitan/hambatan yang mungkin ditemui (goal difficulty), sasaran-sasaran tertentu yang harus dicapai (goal specifity), feedback, dan partisipasi dalam penentuan/pembentukan sasaran (participation in goal setting). Keempat karakter tujuan yang disebut di atas perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum seorang pemimpin menentukan sasaran-sasaran organisasi yang ingin dicapai.

Karena karakter berhubungan langsung dengan visi, secara otomatis ia juga berhubungan dengan bagaimana anda menghitung dan menganalisis segala macam sumber daya yang tersedia dan memungkinkan untuk anda. Sumber daya yang dimaksud tentu saja merupakan sumber daya organisasi.

Segala karakter tentang penetapan sasaran berkaitan secara langsung dengan kepemilikan sumber daya, maupun akses-akses ke sumber daya yang dimiliki oleh organisasi. Tanpa banyak menyadari seperti ini, sebuah organisasi akan kesulitan dalam menentukan tujuan. Oleh karena itu seorang pemimpin dengan visi luwes harus menyadari kehadiran dan kepemilikan sumber daya yang dibutuhkan olehnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi seorang pemimpin, bahwa penetapan tujuan dan sasaran harus diarahkan kepada kepentingan organisasi dan sejauh mana sasaran itu bisa memberi nilai guna, entah bagi orang lain pada umumnya maupun untuk organisasi (dalam batasan-batasan tertentu).

Menentukan tujuan organisasi bukanlah perkara sepele, karena ada banyak pihak yang akan diuntungkan/dirugikan dalam tujuan tertentu, nantinya.

Berikutnya akan dibahas satu persatu tentang empat karakteristik yang telah disebutkan di atas, secara lebih mendalam. Namun sebelum membahasnya, seorang pemimpin mesti paham terlebih dahulu tentang kunci utama dari pembentukan sasaran. Ia adalah visi dan juga kemauan pemimpin untuk menganalisa lingkungan organisasi.

Lebih Jauh tentang Empat Karakter Sasaran
Anda perlu tahu bahwa seorang pemimpin adalah juga orang yang merumuskan sasaran-sasaran maupun tujuan-tujuan organisasi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus tahu dengan pasti apa visi yang termaktub dalam garis organisasi, dan tujuan-tujuan apa yang harus dikejar dan diterapkan dengan baik dan sesuai visi yang diembang.

Di atas telah disebutkan empat karakter sasaran-sasaran yang mesti diketahui, yang meliputi: goal difficulty, goal specifity, feedback, dan participation in goal setting. Di sini akan dibicarakan lebih lanjut tentang keempatnya, yang pada intinya berperan penting dalam penentuan sasaran-sasaran maupun tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin.

Di bawah ini akan ditemui penjelasan pertama tentang goal difficulty:

1) Goal difficulty
Setiap organisasi pasti akan selalu menemukan banyak hambatan dan kesulitan ketika berusaha menciptakan visi dan tujuan tertentu. Mereka ini bisa menjadi halangan, namun pada saat bersamaan juga bisa menjadi motivasi.

Dalam arti begini: meningkatkan tingkat kesulitan dalam usaha mencapai sasaran berarti juga akan mengembangkan kemauan yang lebih keras untuk mencapai sasaran. Lebih jauh lagi, sasaran yang teramat sulit dicapai membantu karyawan atau anggota tim untuk meningkatkan kinerja, terutama ketika mereka mampu mencapainya.

2) Goal specifity
Ini adalah titik di mana seorang pemimpin harus tahu sasaran yang ingin dicapai. Karena itu akan menjadi lebih baik bila pemimpin tahu sasaran-sasaran yang ingin dicapai. Artinya ia harus membuat sasaran menjadi lebih spesifik, karena ini akan semakin baik. Sasaran yang spesifik juga membantu anggota tim untuk mencapainya dengan cara yang lebih baik. Hindari segala hal yang berbau “do your best”, utamanya bila pemimpin tidak tahu sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.

3) Feedback
Dalam penentuan sasaran, hal paling tepat untuk dilakukan adalah memberikan feedback (imbal balik) kepada anggota tim yang dipandang sudah memberika kontribusi tepat bagi usaha mencapai tujuan yang telah diterapkan. Imbal ballik bisa diberikan secara reguler, dan ini jelas membantu anggota tim berada dalam jalur yang tepat, serta membantu mereka bekerja lebih keras.

4) Participation in goal setting
Ketika menetapkan sasaran, cobalah untuk melibatkan seluruh anggota tim/karyawan. Dengan cara tersebut, mereka akan menentukan sasaran mereka lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Keterlibatan anggota tim juga membantu munculnya kepercayaan, bahwa sasaran tersebut bisa dicapai karena sesuai dengan kemampuan mereka. Biasanya, partisipasi juga memotivasi mereka untuk mencapai hal-hal tertentu.

Jelas bahwa penentuan sasaran merupakan kegiatan aktif, di mana keterlibatan banyak orang juga diperlukan, selain visi dari pemimpin itu sendiri. Menentukan sasaran dengan cara mengetahui apa yang ingin dicapai juga menjadi cara yang pas, sehingga di sini keterlibatan anggota tim menjadi mutlak dan perlu.

Slide1

Slide1