Tahapan dan Cara Merumuskan Perencanaan Strategis atau Strategic Planning

Faktor-faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Internal dan Eksternal

Pengertian: gabungan pertimbangan berbagai hal yang menentukan situasi strategis perusahaan, baik di dalam maupun di luar badan perusahaan. Berbagai pertimbangan ini dapat muncul karena adanya faktor eksternal (pengaruh dari laur) dan faktor internal (pengaruh dari dalam tubuh perusahaan sendiri).

Faktor eksternal yang dapat memengaruhi pemilihan strategi adalah:

Faktor ekonomi, sosial, politik dan pemerintah. Contohnya adalah peraturan atau keputusan pemerintah, krisis moneter, penurunan atau peningkatan daya beli masyarakat, kejadian luar biasa seperti perang atau bencana alam dan sebagainya.

Kondisi persaingan dan daya tarik industri. Perubahan selera masyarakat dan kemunculan tren usaha baru yang merambah konsumen berbeda atau memengaruhi selera serta gaya konsumsi masyarakat dapat sangat memengaruhi jenis strategi yang diambil.

Peluang dan ancaman perusahaan. Kemunculan pesaing baru dengan kekuatan yang patut diperhitungkan serta kemunculan pangsa pasar baru bisa menjadi faktor yang memengaruhi bagaimana strategi dibuat.

Faktor internal yang dapat memengaruhi pemilihan strategi adalah:

Kekuatan, kelemahan, kompetensi dan stabilitas perusahaan. Apapun jenis strategi yang dibuat, tetap harus mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk menjalankannya secara nyata.
Ambisi dan filsafat bisnis personal eksekutif utama. Dalam sebuah perusahaan, tingkat eksekutif berada pada hirarki strategis tertinggi seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya.

Visi dan tujuan global yang diputuskan para eksekutif atau korporat dapat memengaruhi sifat strategi yang disusun semua bagian.

Share value dan kultur perusahan. Kultur yang dianut sebuah perusahaan, baik itu berdasarkan kultur umum bangsa, daerah bahkan kepercayaan, dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan pembuatan strategi.

Kedua faktor ini harus dipertimbangkan secara bersamaan setiap kali perusahaan akan merencanakan suatu strategi. Pertimbangan terbesar biasanya dilakukan pada tingkatan hirarki tertinggi, baru kemudian disesuaikan dan diinstruksikan pada pihak-pihak lainnya di dalam perusahaan seperti bagian fungsional dan bagian operasional. Masing-masing pihak pun idealnya saling memonitor dan mengevaluasi keputusan yang diambil oleh pihak eksekutif, terkait kelayakannya untuk diterapkan.

Berikut adalah penjelasan tentang masing-masing faktor.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Ekonomi, Sosial, Politik dan Regulasi Pemerintah

Faktor pembentuk pemilihan strategi eksternal yang pertama adalah yang berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi dan regulasi pemerintah. Keempat faktor ini merupakan faktor penentu eksternal yang paling dasar. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan salah satu faktor ini biasanya memiliki dampak yang cukup besar, terutama dalam hal regulasi pemerintah karena terkait peraturan dan sanksi.
Berikut beberapa contoh faktor-faktor terkait ekonomi, sosial, politik dan regulasi pemerintah dalam penentuan strategi di sebuah perusahaan:

Sebuah perusahaan farmasi hendak memproduksi produk suplemen untuk kesehatan mata yang dikemas dalam kapsul gelatin. Untuk pembuatan obat berbungkus kapsul gelatin, perusahaan farmasi besar di Eropa dan Amerika sering memakai gelatin babi karena murah. Akan tetapi, ketika beroperasi di negara dengan populasi Muslim dan Yahudi yang besar atau dominan, perusahaan tidak boleh mengabaikan hal tersebut dan harus mengganti gelatinnya dengan gelatin hewan halal walaupun lebih mahal.

Tren green living dan isu pemanasan global harus membuat berbagai perusahaan mengambil langkah partisipatif dalam hal ini sebagai salah satu langkah peningkatan citra merk di masyarakat sekaligus menaati regulasi pemerintah tentang konservasi lingkungan. Misalnya adalah dengan membuat kemasan produk daur ulang, melakukan langkah peghematan energi dalam setiap keputusan operasional, mengatur pembuangan dan pemanfaatan limbah industri dan sebagainya.

Setiap negara memiliki aturan perpajakan, ijin usaha dan ketentuan perindustrian sendiri. Perusahaan lokal maupun internasional harus menaati hal tersebut ketika beroperasi di negara tersebut, dan hal itu dapat berpengaruh besar pada setiap keputusan strategis yang dibuat.

Ketika inflasi atau krisis moneter menghantam sebuah negara, perusahaan yang memproduksi kosmetik mahal atau barang-barang mewah harus melibatkan hal ini dalam setiap pembuatan strategi.
Faktor-faktor yang bersifat sosial, ekonomi, politik atau berkaitan dengan regulasi dan ketetapan pemerintah sejauh ini memiliki pengaruh paling besar pada pembuatan dan implementasi strategi sebuah perusahaan karena sifatnya yang luas. Bahkan, hal ini menjadi landasan pertama yang dijadikan patokan oleh perusahan dalam membuat strategi, terutama bila menyangkut etika dan hukum yang berlaku.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Kondisi Persaingan dan Daya Tarik Industri.
Faktor pementuk pemilihan strategi yang bersifat eksternal lainnya adalah kondisi persaingan dan daya tarik industri. Faktor ini biasanya menjadi pertimbangan eksternal kedua setelah faktor regulasi pemerintah menyangkut pembentukan strategi.

Dalam hal pemilihan strategi, sebuah perusahaan harus memerhatikan tiga hal, yaitu:

Level persaingan di dalam industri spesifiknya. Contoh, jika sebuah perusahaan di Indonesia bergerak di bidang pembuatan makanan ringan berupa keripik kentang, ia harus memerhatikan level persaingan dengan merk makanan ringan serupa lainnya dalam setiap pengambilan keputusan strategis. Hal ini karena di Indonesia pangsa pasar untuk keripik kentang cukup luas sehingga persaingannya pun sangat ketat.

Siapa Saja Rival yang Dihadapi. Terkait contoh di atas, sebuah perusahaan pembuat keripik kentang harus berhadapan dengan pesaing di Indonesia yang telah mapan seperti Frito-Lay, Indofood dan berbagai perusahaan lokal yang membidik pengonsumsi jajanan murah seperti anak sekolah. Setiap strategi yang dibuat harus bisa membuat perusahaan tersebut mengungguli atau mengimbangi kinerja pesaingnya.

Kunci Sukses yang Dibutuhkan untuk Menjadi Market Leader. Agar bisa menjadi pemimpin pasar di bidang pemasaran makanan ringan keripik kentang, sebuah perusahaan harus mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada dalam hal persaingan dengan para perusahaan pesaingnya, lalu memilih strategi terbaik yang inovatif dan unik hingga dapat mengungguli mereka.

Ambil contoh merk Chitato. Salah satu kunci kesuksesan dari merk ini adalah adanya kesetiaan pada rasa-rasa lama yang telah diakrabi pelanggan sambil menciptakan jenis-jenis rasa baru untuk memeluk pangsa pasar lain yang menyukai rasa yang inovatif. Selain iitu, Chitato juga menyesuaikan rasa dengan tren yang berlaku. Misalnya, Chitato seri Asia yang khusus menyajikan rasa-rasa Asia seperti udang Thailand, Bulgogi Korea dan Seafood Jepang setelah tren segala sesuatu yang berbau Asia Timur merebak di Indonesia.

Kemampuan untuk menganalisis potensi persaingan yang bisa ditimbulkan lawan, serta pemilihan strategi inovatif yang tidak dimiliki pesaing, merupakan salah satu kunci sukses bagi perusahaan untuk bisa memilih strategi paling unggul dalam hal kesuksesan di pemasaran dan bisnis.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Peluang dan Ancaman.
Dalam pemilihan strategi, sebuah perusahaan bisa jadi akan berhadapan dengan faktor positif (peluang) dan faktor negatif (ancaman). Baik peluang maupun ancaman dapat memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan menentukan strategi.

Peluang yang Bisa Dimanfaatkan.
Sebuah peluang dapat memberi jalan bagi perusahaan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki demi meraih kesuksesan optimal lewat manajemen strategis. Peluang bisa datang dalam bermacam bentuk. Sebagai contoh, Teh Botol Sosro menemukan ide membotolkan teh siap minum demi melancarkan promosi produk teh melati ke pelosok-pelosok Indonesia yang jalanannya masih belum mulus. Peluang itu kemudian disambar sebagai kesempatan untuk menonjol di tengah pasar produsen teh dan menjadikan Sosro sebagai pelopor produk teh siap minum pertama di Indonesia.

Ancaman yang Akan Muncul.
Ancaman bagi kesuksesan dan pencapaian profit sebuah perusahaan dapat dipandang sebagai hambatan atau kesempatan untuk berinovasi dan menemukan strategi baru yang unik. Mengambil kasus Teh Botol Sosro, ancaman datang ketika berbagai produsen minuman kemasan mulai mengikuti jejaknya dengan memproduksi teh dalam botol sehingga persaingan semakin meningkat. Teh botol Sosro akhirnya menjawab tantangan ini dengan meluncurkan strategi diversifikasi produk dan pasar, yaitu Fruit Tea untuk anak muda dan teh dalam kemasan kotak untuk pecinta kepraktisan. Selain itu, citarasa teh yang tidak terlalu manis tetap dipertahankan dan kini ada varian baru yaitu teh dengan sedikit gula (less sugar).

Dalam kedua kasus Teh Botol Sosro di atas, terlihat bahwa baik peluang maupun ancaman dari luar merupakan faktor yang memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan memutuskan strategi bisnis dan pemasaran. Peluang dapat memunculkan ide strategi terkait kesempatan baru, sementara ancaman dapat menjadi motivasi untuk melakukan inovasi dalam pembentukan strategi agar perusahaan tetap bisa unggul di pasar.

Semua hal di atas merupakan FAKTOR EKSTRNAL yang memengaruhi bagaimana perusahaan bersikap dan membentuk strategi. Akan tetapi, dalam setiap pengambilan keputusan, FAKTOR INTERNAL juga harus dipertimbangkan bersama-sama karena pengaruhnya sangat besar.

Silde di bawah akan mulai mendeskripsikan faktor-faktor internal yang memengaruhi pembentukan strategi.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Kekuatan, Kelemahan, Kompetensi dan Stabilitas Perusahaan.

Selain faktor eksternal, ada faktor internal yang berasal dari dalam tubuh perusahaan sendiri. Faktor internal yang sangat penting menyangkut kekuatan, kelemahan dan kompetensi serta stabilitas perusahaan itu sendiri. Walaupun semua faktor eksternal relatif sudah bisa diatasi, keempat faktor internal ini adalah penentu utama apakah sebuah keputusan strategis bisa dilakukan atau tidak.

Kekuatan dan Kelemahan.
Faktor kekuatan serta kelemahan sebuah perusahaan bisa terkait dengan jumlah modal yang dimiliki perusahaan tersebut, jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk bisa melaksanakan strategi, jumlah jaringan pemasok atau cabang yang dimiliki, akses terhadap bahan baku produk dan sebagainya.

Kompetensi.
Kompetensi perusahaan menjadi faktor lain yang tak bisa ditawar-tawar dalam hal menentukan sebuah keputusan strategis. Faktor ini terkait dengan kemampuan sebuah perusahaan dalam menentukan strategi unggul dan menjalankannya seoptimal mungkin. Faktor kompetensi ini misalnya jumlah sumber daya berkualitas yang dimiliki perusahaan, tingkat kompetensi para karyawan dan staf dalam hal penempatan mereka di berbagai posisi strategis di perusahaan, mutu peralatan produksi yang dimiliki perusahaan dan sebagainya. Faktor ini erat juga kaitannya dengan poin pertama di atas.

Stabilitas.
Stabilitas perusahaan berkaitan dengan struktur internal perusahaan tersebut. Apakah sebuah perusahaan cukup stabil untuk memutuskan dan melakukan sebuah strategi besar, misalnya strategi pemasaran produk berskala internasional? Apakah perusahaan tersebut akan mampu mempertahankan strategi yang sudah diputuskan hingga jangka waktu target yang sudah ditetapkan?

Dalam kaitannya dengan kekuatan, kelemahan dan stabilitas, perusahaan harus memiliki pendataan rinci mengenai daftar kompetensi, kekuatan dan kelemahan badan perusahaan tersebut. Catatan tersebut harus rinci dan saling bersinergi, terutama dalam perusahaan dengan diversifikasi yang luas. Dengan memahami kekuatan dan kelemahannya, perusahaan dapat dengan mudah membuat perkiraan tentang strategi terbaik apa yang bisa diambilnya. Ketika sebuah kelemahan dideteksi, perusahaan juga bisa mengambil langkah untuk mengatasi kelemahan tersebut.

Akan tetapi, semua faktor eksternal tersebut akhirnya juga tergantung pada ambisi dan filsafat bisnis direksi, yang berada di hirarki teratas dalam menetapkan visi global perusahaan.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Ambisi dan Filsafat Bisnis Direksi.
Jika kita kembali merujuk pada hirarki strategi, dewan direksi berada pada hirarki tertinggi. Pihak direksi atau dewan korporasi adalah mereka yang menentukan visi dan strategi global perusahaan. Hal ini kemudian menentukan bagaimana sebuah perusahaan akan membentuk strategi dan memilih untuk merepresentasikan dirinya ke masyarakat.

Ketika dewan korporat atau top manajemen perusahaan menentukan visi global, hal tersebut termasuk bagaimana membentuk citra perusahaan tersebut di mata masyarakat. Citra yang ingin dibentuk kemudian diaplikasikan dalam bentuk strategi yang lebih konkret dengan indikator yang bisa diukur.

Sebagai contoh, Wardah Cosmetic sejak awal sudah memposisikan diri sebagai produsen kosmetik dengan bahan-bahan halal dan segmen utama wanita muslim yang mungkin ragu memakai produk luar negeri yang bahannya belum tentu halal. Akhirnya, setiap keputusan strategis menyangkut hal-hal seperti pembentukan segmen pasar, pemasaran hingga metode promosi selalu diarahkan untuk menekankan citra ini.

Contoh dari strategi berdasarkan visi dan filsafat dewan direksi Wardah Cosmetic ini adalah kerjasama mereka dengan Inneke Koesherawati dan yang terbaru Dewi Sandra, yang terkenal karena tidak takut berjilbab di tengah keglamoran dunia selebriti dan menjadi simbol wanita Muslim Indonesia yang mempertahankan syariat. Aura positif ini kemudian dijadikan sebagai salah satu nilai jual dari Wardah, yang pangsa pasarnya adalah wanita Muslim Indonesia. Pemilihan model semacam ini merupakan salah satu strategi yang didasarkan pada visi dan filsafat Wardah.

Tingkat kesuksesan penggunaan kedua model ini nantinya akan bisa diukur berdasarkan berbagai faktor seperti target jumlah pembelian produk Wardah di Indonesia, peningkatan jumlah pembelian kosmetik Wardah, tingkat pendapatan penjualan tahunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan sebagainya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa filosofi dewan direksi di Wardah berpengaruh besar pada bagaimana pihak-pihak di hirarki bawahnya menentukan strategi bisnis, produksi, promosi dan pemasaran. Strategi ini terbilang sukses mengingat produk Wardah kini sudah menyebar di seluruh Indonesia dan difersivikasi produknya terus bertambah.
Slide berikutnya akan membahas faktor internal terakhir yang memengaruhi pembentukan strategi, yaitu kultur dan nilai yang dianut perusahaan.

Faktor Pembentuk Pemilihan Strategi: Shared Values dan Kultur Perusahaan
Sebuah perusahaan memiliki kultur dan nilai unik yang menentukan bagaimana setiap strategi direncanakan, diolah dan diimplementasikan. Kultur perusahaan dapat memengaruhi cara para pengambil keputusan menentukan dan mengolah strategi. Kultur merupakan tatanan yang menjadi dasar tindakan, sedangkan shared values adalah nilai-nilai berdasarkan etika sosial dan lingkungan yang dianut perusahaan.

Sama seperti kultur dalam masyarakat, kultur dan shared values dalam perusahaan menentukan bagaimana perusahaan akan mengambil keputusan strategis. Jika sebuah keputusan efektif namun dinilai tidak sesuai dengan kultur dan nilai perusahaan, maka keputusan tersebut tidak akan diambil dan perusahaan akan memilih cara lain. Selain itu, shared values juga bisa memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan mengambil strategi manajemen usaha.

Beberapa ilustrasi:
• Whole Foods Market memahami bahwa makanan organik adalah makanan dengan kualitas terbaik, dan prinsip itu menjadi dasar usaha serta shared values perusahaan. Usaha Whole Foods Market pun ditujukan untuk memasarkan bahan makanan organik dengan harga murah karena harga bahan makanan ini biasanya mahal.

• The Body Shop sejak awal pendiriannya menekankan prinsip ramah lingkungan serta penggunaan bahan-bahan alami. Maka, setiap produknya memakai bahan berbagai tanaman dan herba yang dipasok dari petani lokal di seluruh dunia, dan semua kemasannya (tas, botol, kemasan kado) dapat didaur ulang atau terbuat dari barang daur ulang. Ada juga program pemberian poin belanja untuk konsumen yang berbelanja sambil membawa kemasan kosong Body Shop untuk dikembalikan ke toko.

• Nestle memiliki shared values yang menekankan pada rantai produksi global sekaligus tanggung jawab sosial pada masyarakat, dan menerapkannya pada suplai susu dari distrik susu Moga di India. Hal ini disesuaikan dengan shared values-nya walaupun dari segi perhitungan modal Nestle harus mengeluarkan uang lebih banyak ketimbang memasok susu dari peternakan di Eropa saja.
Shared values dan kultur kerap berseberangan dengan konsep efisiensi bisnis, namun di sisi lain, kedua hal ini juga bermanfaat dalam menaikkan nilai kompetitif perusahaan dan menaikkan citra di masyarakat.

GRATIS - 7 materi presentasi yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!