Gaya Manajemen Partisipatif

Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.

Dalam dunia bisnis, manajemen hampir selalu dilihat dalam kerangka produktivitas. Mengapa? Karena ukuran sukses sebuah organisasi atau unit usaha selalu dilihat dari tingkat produktivitasnya, apa pun jenis produk dari organisasi atau unit usaha itu. Dan di sanalah juga terletak ukuran sukses Anda sebagai manajer.

Akibatnya, Anda, sebagai manajer, akan menilai bawahan berdasarkan seberapa banyak atau seberapa baik produk yang dihasilkannya. Demikian juga, Anda akan dinilai menurut seberapa tinggi produktivitas bawahan Anda. Implikasi dari cara pandang ini adalah, tenaga k erjaakan diperlakukan sebagai barang atau mesin, yang bisa dieksploitasi sedemikian rupa untuk keuntungan perusahaan.

Dalam masa-masa terakhir ini, cara pandang seperti ini, kendati berhasil, tidak jarang menim-bulkan akibat yang negatif, yakni terlantarnya kesejahteraan bawahan yang pada gilirannya akan merupakan kerugian bagi perusahaan secara keseluruhan, Bertolak dari masalah itu, maka berkembanglah apa yang disebut pendekatan interaktif dalam manajemen. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah bahwa “seseorang akan bekerja dengan baik dan efektif karena ia merasa bisa mengerti atasannya dan sebaliknya ia juga merasa dimengerti oleh atasannya”.

Jika diperhatikan, ciri-ciri yang dimiliki oleh perilaku manajemen interaktif ini akan ber-beda secara mendasar dengan manajemen yang lebih berorientasi pada teknis. Untuk lebih men-jelaskan apa dan bagaimana ciri-ciri manajemen interaktif, mari kita coba bedakan dengan ciri-ciri yang ada pada manajemen teknis.

Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.

1. Orientasi Pada Pekerja vs Orientasi Pada Perusahaan.
Pada manajemen yang berorientasi teknis, para rnanajer lebih mementingkan penyelesaian tugas bawahannya. Tugas selesai berapa pun hu-man cost-nya, adalah diktum utama para manajer. Maka perilaku yang tampil selalu ditandai dengan urgensi, ketidakjsabaran, dan dominasi.

Di pihak lain, seorang manajer, interaktif akan lebih berperan sebagai konselor, konsultan atau problem solver. Mereka lebih menekankan upaya membantu bawahan untuk bisa mengerja-kan tugas sebaik-baiknya. Maka perilaku yang muncul sering ditandai dengan kepercayaan, kesabaran, empati, dan tidak enggan memberi bantuan. Dalam derajadnya yang tertinggi, situasi ini akan membangun rasa saling percaya antara atasan dan bawahan.

2. Menerangkan dan Mendengarkan vs Memerintah.
Manajer berorientasi teknis seringkali mendominasi pembicaraan, dan selalu menekankan pada tugas dan kewajiban bawahan. Sebaliknya, di dalam manajemen interaktif penekanartnya selalu pada pemecahan masalah yang membuka komunikasi dua arah. Salah satu syarat keahlian yang harus dimiliki sang manajer ialah rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi secara verbal, baik dalam melontarkan pertanyaan maupun dalam mendengarkan umpan balik.

3. Membangun Komitmen vs Penekanan Pada Tugas.
Kekuasaan dan wewenang adalah kata kunci pada manajer yang berorientasi teknis. Maka se¬ringkali muncul kata-kata seperti: “Kerjakan sesuai dengan perintah!” “Manajer memikirkan, bawahan mengerjakan”. Tampak sekali di sini bahwa tugas seorang manajer adalah mengendalikan dan memerintah bawahan untuk mengerjakan suatu tugas secepatnya, tak peduli mereka siap atau tidak. Memang, dalam jangka dekat, cara seperti ini berhasil. Akan tetapi tak jarang juga cara ini menimbulkan ketidaksenangan bawahan.

Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.

Dalam manajemen interaktif, harus ada perpaduan antara sasaran jangka-pendek dan jangka panjang. Karena itu di sini diberikan kesempatan pada bawahan untuk memecahkan masalahnya sendiri, dalam jangka waktu tertentu. Ada ruang untuk bernapas. Maka di sini yang dipentingkan adalah membangun tim kerja yang efektif dan efisien, bukan pelaksanaan tugas yang segera. Walaupun akan memakan waktu lebih banyak untuk mencapai hasil yang nyata, toh, dengan cara ini, keluhan akan berkurang, akan tumbuh rasa saling percaya dan goodwill antara atasan-bawahan, semangat kerja akan terjaga, dan akan terbentuk tim kerja yang lebih efektif.

4. Orientasi Pada Manusia vs Orientasi Pada Tugas.
Memenuhi batas waktu pelaksanaan tugas adalah satu hal yang amat penting bagi manajer yang berorientasi teknis, sehingga upaya maksimal sering diabaikan, demi memenuhi deadline.

Ini seringkali menyebabkan frustasi di kalangan bawahan. Mereka raerasa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Manajemen interaktif berorientasi pada manusia, Maka masalah dan/atau kebutuhan ba¬wahan sama pentingnya dengan tugas itu sendiri. Tujuan utama seorang manajer interaktif adalah membangun hubungan dengan bawahan, sehingga motivasi untuk mencapai tujuan or-ganisasi akan muncul dengan sendirinya pada diri bawahan itu.

5. Mudah Beradaptasi vs Kekakuan.
Manajer berorientasi teknis biasanya menampilkan pola interaksi yang sama meskipun terhadap bawahan yang berbeda-beda. la tidak mampu bervariasi, karena tidak peka terhadap gaya, kebutuhan, maupun masalah yang dimiliki oleh setiap bawahannya. Manajer berorientasi teknis nyaris tidak sensitif terhadap pertanda-pertanda yang ditampilkan oleh bawahannya yang sebenarnya pertanda itu mewakili kebu¬tuhan yang terpendam dalam diri si bawahan.

Fleksi