Membangun Budaya Kerja dan Budaya Perusahaan Budaya Kerja yang Fokus pada Proses

Budaya Kerja Keras

Budaya kerja keras dimiliki oleh organisasi penjualan yang hiperaktif: real estate, perusahaan komputer, distributor otomotif, usaha penjualan door to door, penjualan produk massal seperti McDonald atau Frito-Lay, produsen peralatan kantor seperti Xerox atau Pitney Bowes, dan sebagian besar toko eceran.

Para karyawan pada perusahaan ber-Budaya Kerja Keras umumnya bekerja dengan risiko yang kecil plus umpan balik yang cepat dan intensif. Selama karyawan melaksanakan kegiatannya terlepas dari apakah mereka berhasil memperoleh order pembelian atau tidak aktivitas bisnis akan terus jalan. Yang penting disini dituntut ketekunan karyawan untuk terus menjajakan dagangan atau datang kepada kon-sumen tanpa bosan.

(Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Bisa juga dengan mengontak konsumen melalui telepon. Figur panutan. Figur panutan dalam budaya ini adalah tenaga penjual yang super. Tidak seperti Budaya Macho, figur panutan pada Budaya Kerja Keras dinilai berdasarkan prestasi menjual.

Karyawan terbaik adalah yang mampu men-dekati konsumen secara baik. Dia haruslah seorang yang ramah, mengesankan dan tampil bersahabat. Di sini peran tim sangat penting, karena tidak ada sifat-sifat individual yang membedakan satu sama lain. Lagi pula, tim yang menentukan volume penjualan. Karenanya, membuat klub salesmen atau mengadakan kontes salesman sangat penting dalam budaya ini.

Tata cara kerja dan ritual. Budaya Kerja Keras termasuk budaya yang sulit. Kemampuan men¬jual juga harus dibarengi dengan pribadi yang menyenangkan. Lebih dari berbagai budaya lainnya, Budaya Kerja Keras penuh dengan aktivitas yang energetik: kontes, rapat, promosi, seminar, dan sebagainya.

Bahasa memegang peran penting dalam ri¬tual bisnis Budaya Kerja Keras. Kepandaian memainkan kata-kata jelas besar maknanya untuk meraih sukses. Jika dalam Budaya Macho, sang bintang cenderung menyombongkan prestasi, maka seorang tenaga penjual yang super justru sebaliknya. Mereka meyakini bahwa konsumen adalah segalanya. Kekuatan dan kelemahan.

Lingkungan Budaya Kerja Keras sangat kondusif bagi orang-orang yang aktif; yang selalu bergelimang dengan umpan balik yang nyata dan cepat. Adalah berkat budaya ini, di banyak negara tersedia ber¬bagai produk yang dibutuhkan masyarakat.

Tapi, budaya kerja macam ini juga mempunyai kelemahan substansial. Volume bisa menggantikan kualitas. Budaya ini juga menyebabkan keterlenaan karena sukses, padahal sukses yang diraih hari ini bisa saja menjadi awal kegagalan esok hari. Perusahaan berteknologi tinggi, umpamanya, tumbuh secara mengesankan hanya dalam beberapa hari, tapi sering mengabaikan bahwa hal tersebutbelum berarti berlaku jangka panjang.

Budaya ini cenderung menyediakan solusi yang cepat jika ditemukan permasalahan. Seperti Budaya Macho, Budaya Kerja Keras cenderung memiliki perspektif jangka pendek. Perusahaan dengan budaya ini bisa mengalami tingkat ke luarmasuk karyawan yang dramatis jika kemampuan menjual sudah mentok.

(Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif edisi November 1989

Leave a Reply

RP Bawah