Tips Bisnis yang Ampuh untuk Karir Anda

Memberi nasihat ada seninya sendiri. Misalnya, terlalu sering memberi nasihat, apalagi kalau tidak diminta, akan mematikan inisiatif dan pemikiran yang independen. Seorang manajer dengan bijaksana mengatakan, “Saya mengharapkan staf saya mampu mengambil sendiri keputusan-keputusan yang sulit. Mereka dibayar untuk itu. Kalau saya terlalu sering memberi saran, berarti mereka melemparkan tugas itu ke saya.” (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Orang yang terlalu sering dimintai nasihat mungkin menjadi korban manipulasi. Itu pendapat seorang konsultan pengembangan karir. Dalam hal demikian, sekali-sekali sebaiknya kita teliti, mereka apakan nasihat kita itu. Kalau mereka tidak menjalankan nasihat kita berarti: nasihat kita tidak mengena, atau dia bertanya hanya untuk basa-basi.

Sebaliknya kalau mereka selalu mengikuti nasihat dan saran kita, secara tidak sa-dar mungkin kita mematikan kreativitas mereka dan mereka akan selalu datang pada kita untuk meminta saran dan nasihat.

Sebelum mengambil peran sebagai penasihat, menurut para ahli, kita sebaiknya mengkaji perta-nyaan-pertanyaan ini:

• Apakah saya tahu masalahnya? Apakah saya mempunyai pengalaman dan fakta-fakta mengenai itu hingga saraji atau nasihat saya bermanfaat?
• Apakah saya mencampuri urusan orang lain?
• Apa saya tahu apa motif saya memberi nasihat?
• Apakah bisa membantu, atau sekedar membuat saya kelihatan penting?
• Apa saya memang ingin membagi pengeta-huan, atau sekedar untuk menunjukkan bahwa saya lebih tahu dari dia? Apakah ini saya lakukan untuk membengkakkan ego saya?
• Kalau saya tidak yakin mengenai saran atau na¬sihat saya, apakah saya patut menasihatkannya?
• Apakah orang yang akan saya nasihati mau menerima nasihat saya? Sebab, kata Dr. Samueljohn-son, “Nasihat jarang diterima baik, dan yang pa¬ling membutuhkan justru yang paling tidak suka dinasihati.”
• Apakah waktu dan tempatnya tepat untuk memberikan nasihat?
• Apakah saya akan bersukarela memberikannya, atau hanya memberi indikasi bahwa bersedia menyampaikan saran kalau diperlukan? (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

MEMINTA NASIHAT.
“Mengambil manfaat dari nasihat yang baik memerlukan kebijaksanaan le¬bih besar dari memberikannya,” kata filosof John Collins. Dan salah kita, kebanyakan di antara kita mengikuti nasihat tanpa lebih dahulu mengevaluasinya secara cermat. Beberapa faktor kunci un¬tuk menilai kredibilitas nasihat yang sampai pada kita sebaiknya kita simak:

• Bagaimana kredibilitas sumber nasihat itu? Apakah dia mempunyai cukup keterangan yang diperlukan untuk membuat penilaiari? Apakah dia sungguh-sungguh memperhatikan saya, atau cukup mengetahui kebutuhan dan temperamen saya, sehingga dia mau menelaah masalah itu secara serius?
• Berapa sering saya memperoleh nasihat yang kurang lebih sama? Semakin sering apalagi kalau datang dari berbagai sumber maka semakin perlulah nasihat itu didengarkan.
• Apakah saya cukup bisa menerima sikap penasihat yang mungkin subyektif?
• Apakah saya sudah berbicara dengan lebih dari satu orang hingga saya mempunyai dasar untuk menilai baik-tidaknya nasihat itu?
• Apakah secara emosional saya siap menerima nasihat? Siapa pun yang sedang mengalami krisis, atau yang sedang labil, mungkin akan menerima saja nasihat pertama yang diberikan orang, tanpa merenungkannya lebih dahulu.
• Apa ruginya dan apa manfaat mengambil nasi¬hat itu? Untuk bisa efektif, nasihat itu harus lebih dari sekedar masuk akal atau bahkan brilian; nasi-hat itu harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita khususnya pada saat itu. Orang lain tidak tahu sepenuhnya apa yang kita butuhkan.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Bahkan nasihat dari ahli pun bisa counterpro¬ductive jika kita tidak dapat memanfaatkannya dengan tepat. Bisa saja nasihat itu diberikan tanpa mempertimbangkan kemampuan atau ketrampilan kita, maupun keadaan emosi kita. Seorang konsultan manajemen mengatakan, para penasihat mungkin saja tahu sepenuhnya fakta-fakta yang ada, tetapi mungkin masing-masing mem-punyai sisi pandang sendiri tentang fakta-fakta tersebut, dan pandangan masing-masing tentang fakta-fakta itu semakin bervariasi lagi.

Menolak nasihat yang memang kita minta sering menimbulkan persoalan sensitif. Sikap terbaik adalah menimbang nasihat itu dari keteguhan perasaan dan pendapat kita sendiri. Orang yang terlalu yakin pada diri sendiri umumnya menolak nasihat yang baik sekalipun; sebaliknya orang yang lemah umumnya menerima saja nasi¬hat yang ada, sekalipun nasihat itu tidak baik. Bagaimanapun, kita sendirilah yang harus menentukan mengapa kita akan menerima, atau menolak, nasihat itu. Berterimakasihlah secara sopan untuk nasihat apa pun yang diberikan orang, se¬kalipun mungkin kita tidak akan mengikutinya. Sikap itu paling tidak akan membuat para pemberi nasihat merasa bahwa nasihatnya telah kita dengarkan, sekalipun tidak kita ikuti.

Nasihat yang datang dari atasan tanpa diminta sering” menimbulkan dilema. Menghadapi situasi seperti itu, yang dapat kita lakukan adalah: de¬ngan hormat mengabaikan saja nasihat itu; me¬ngatakan bahwa ada nasihat lain yang sudah kita ikuti; berharap agar boss lupa akan nasihat yang telah diberikannya; atau kalau kita dekat dengan dia, katakan terus terang nasihatnya itu sama sekali tidak pas !

(Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Desember 1989.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!