Strategi Bisnis dan Kompetisi Bisnis

Dalam pasar bebas, keefektifan daya saing suatu perusahaan (harga rendah, mutu le¬bih baik, memiliki keunggulan lebih banyak, pengiriman lebih cepat, dan sebagainya) harus terus-menerus isempurnakan. Untuk itu harus diambil langkah-langkah. Caranya ada dua, seperti dapat dilihat dalam grafik. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Gambar pertama menunjukkan, penyempurnaan itu dilakukan dengan suatu rangkaian lompatan besar menuju ke atas yang diambil pada saat-saat kritis. Lompatan-lompatan itu bentuk-nya macam-macam: produk didesain kembali, modemisasi dan perluasan pabrik secara besar-besaran, pindah ke lokasi baru yang akan menciptakan hubungan yang lebih baik dengan karya-wan, pengikutsertaan suplier untuk bahan baku terpenting, atau penggunaan teknologi produksi yang baru.

Antara lompatan besar yang satu ke lompatan besar berikutnya, para manajer hanya mengusahakan perbaikan-perbaikan kecil untuk memperkuat daya saing, sambil meneliti hasil lompatan yang lalu dan memikirkan lompatan berikutnya.

Gambar kedua menunjukkan pilihan lain: serangkaian langkah kecil yang diambil secara progresif, yang hasil akhirnya secara kumulatif akan sama dengan yang pertama. Perusahaan ini tidak mengadakan gebrakan-gebrakan, tetapi terus-menerus memperkuat daya saingnya dengan selalu mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan.

LOMPATAN ATAU LANGKAH STRATEGIS.
Setiap lompatan strategis akan kelihatan dengan jelas dan biasanya memerlukan pengeluaran dana besar. Karena itu pemilihan waktu untuk lompat-an tersebut penting sekali artinya. Keuntungan yang menurun, kemungkinan untuk dicaplok perusahaan lain, order yang bertumpuk sehingga membuat perusahaan itu kehabisan dana perkembangan semacam itu dapat menangguhkan kelancajran proyek.

9 Ilmu Online Paling Ampuh yang akan Membuatmu Makin Pintar dan Tajir. Pelajari ilmunya disini.

Selain itu para manajer dari semua jajaran di organisasi itu harus terlibat dalam membuat analisa dan ikut mengambil keputusan tentang lom¬patan itu. Keterlibatan staf secara luas juga diperlukan, seperti halnya keahlian banyak pakar juga diperlukan ahli keuangan, perencana strategi, ahli hukum, ilmuwan, konsultan luar, dan tenaga-tenaga PR.

Karena tiap lompatan itu begitu besar dan keli-hatan/siapa punyangmengusulkan|perubahan itu memikul risiko tinggi, tetapi juga keuntungan be¬sar kalau berhasil. Sukses menciptakan pahlawan; kegagalan menimbulkan konsekuensi yang berat

Perusahaan-perusahaan yang mengambil stra¬tegi “lompatan besar” menganggap staf sebagai grup elit Manager pada tingkat bawah yang naik ke posisi staf berarti naik pangkat. Tetapi di ba¬wah mereka tidak diperlukan karyawan-karyawan yang hebat Tugas mereka ini hanyalah menjalankan struktur yang dibangun oleh pimpinan puncak dan staf manajemennya. Perusahaan-perusahaan yang mengambil strategi ini agaknya tidak perlu membuang waktu untuk melatih atau mendidik karyawannya karena lompatan strate¬gis berikutnya mungkin akan membuat ketram-pilan yang mereka ajarkan itu menjadi kadalu-warsa lagi.

Sama halnya, di perusahaan semacam ini karyawan atau manajer tingkat bawah tidak perlu mengerti secara rinci bagaimana operasi yang di-jalankannya dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh bagian-bagian lain dalam organisasi. Dengan demikian, karyawan dan manajer tingkat bawah tidak mempunyai kesempatan untuk mengajukan saran tentang peran mereka dalam organisasi, karena karyawan tidak mungkin tahu bagaimana perubahan-perubahan yang mereka usulkan itu akan sesuai dengan strategi umum perusahaan, apalagi dengan lompatan besar yang akan dibuat selanjutnya.

LANGKAH KECIL.
Kalau perusahaan mengi-kuti kebijaksanaan “langkah kecil” dalam usaha meningkatkan daya saingnya, maka tak banyak dari langkah-langkah itu yang akan kelihatan menyolok atau membawa risiko besar. Karena boleh dikatakan tidak diperlukan pengeluaran modal secara besar-besaran, maka tidak banyak diperlu¬kan bantuan staf atau konsultasi dari luar. Dalam perusahaan semacam ini yang diharapkan adalah langkah-langkah penyemputtiaan dari tingkat-tingkat bawah dalam organisasi. Staf jumlahnya lebih kecil dari organisasi yang menganut strategi “lompatan besar”. Tugas utamanya adalah memberikan dukungan. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Penyempurnaan dengan langkah-langkah kecil ini memperlukan keahlian luarbiasa tingkat bawah; bukan keahlian dari tingkat bawah, tetapi keahlian pada tingkat bawah. Mengembangkan keahlian macam ini memerlukan waktu lama.

Para eksekutif perlu berusaha mempekerjakan orang-orang yang dapat dididik dan yang loyal, dan yang bersedia terus-menerus menyempurnakan ketrampilannya setelah diterima baik lewat program-program pendidikan formal maupun le¬wat pengalaman kerja yang memberikan pengertian luas tentang produk-produk perusahaan itu, proses produksinya, maupun lingkungan ber-saingnya. Demikian juga, pihak pimpinan perlu memberikan pengertian itu kepada karyawan dan mengusahakan agar karyawan terus mengikuti perkembangan, baik mengenai hasil-hasil keuangan, perilaku pasar, maupun kegiatan-kegiatan kompetitor.

Setelah memberikan demikian banyak kepada ahli-ahli di tingkat bawah itu, perusahaan akan berusaha sebaik-baiknya untuk mempertahankan karyawan yang mempunyai keahlian itu. Karyawan-karyawan lama mempunyai keuntungan: karena tugas-tugas mereka yang bermacam-macam selama ini, mereka mempunyai kesempatan untuk membangun hubungan dengan orang-orang dari bagian-bagian lain dalam organisasi. Hubungan ini akan memudahkan mereka membuat perubahan-perubahan kecil yang memerlu-kan komunikasi antar beberapa kelompok kerja.

Proyek-proyek perubahan secara berangsur itu umumnya tidak banyak memerlukan modal sehingga para manajer seringkali dapat membiayainya dari anggaran tahunan perusahaan. Dapat dimengerti bahwa para manajer akan mendukung usaha-usaha penyempumaan itu karena mereka tahu benar bagaimana sistem produksinya.

Orang-orang yang terlibat mempunyai komitmen untuk sukses jangka panjang perusahaan, karena mereka ingin bekerja untuk waktu lama di tempat itu. Proyek-proyek semacam itu juga mempunyai kemungkinan akan berhasil jika buruh, mandor, dan para manajer tingkat bawah berpartisipasi merencanakannya lewat program-program untuk menyampaikan usul dan saran, kelompok peng-kaji mutu, dan sebagainya.

Bagaimana Saya Menghasilkan 40 Juta Per Bulan dari Internet. My Real Story. Pelajari ilmunya DISINI.

Perusahaan semacam ini tidak berpendapat bahwa banyak dari problem yang dihadapinya dapat diatasi oleh manajemen tingkat atas. Keahlian dan informasi yang diperlukan untuk mengatasi problem-problem semacam itu ada pada karyawan di tingkat bawah organisasi, dan problem-problem baru terus-menerus muncul. Karena itu peran manajemen tingkat atas bukannya mengenali dan mengatasi problem-problem itu, tetapi menciptakan suatu organisasi yang dapat menge-nali dan mengatasi sendiri problem-problemnya.

PERSAINGAN BISNIS dan Strategi Bisnis
Dalam dongeng lama, kelinci yang mempunyai kebiasaan pontang-panting itu kalah berlomba dengan kura-kura yang berjalan lamban tetapi mantap. Apakah strategi lompatan besar akan mengalami nasib serupa nasib kura-kura?

Risiko utama yang dihadapi perusahaan yang mengambil strategi langkah-langkah kecil adalah, dia akan dilompati dan ketinggalan oleh kompetitor yang membuang teknologi, lokasi, atau strategi perusahaan yang tradisional, untuk mengambil cara yang lebih baru dan bisa lebih sukses. Sejarah dunia bisnis penuh dengan contoh-contoh semacam itu: mesin piston diganti mesin jet, tabung vakum diganti transistor, dan sebagainya.

Sebaliknya, risiko utama mengikuti strategi lompatan besar adalah bahwa terobosan yang di-harapkan mungkin tidak terjadi pada saat yang di¬perlukan. Setelah membuat lompatan besar pertama, dan mengalahkan pesaing-pesaingnya, ada kemungkinan kepeloporannya berangsur-angsur dikejar oleh pesaing-pesaingnya, dan pada waktu dia harus membuat lompatan “besar berikutnya, temyata tidak ada akal atau pikiran baru.

Jalan keluar yang bisa diambil: dia kemudian memakai strategi langkah-langkah kecil yang se¬lama ini dipakai pesaing-pesaingnya, sampai datang kesempatan untuk membuat lompatan besar. Namun ini tidak mudah karena perusahaan yang biasa memakai strategi lompatan besar susah mengubah perilakunya menjadi perusahaan berstrategi langkah kecil, karena kreativitas entre¬preneurial dari bawah tidak dapat diperintahkan dari manajemen di atas.

Tetapi sebaliknya, perusahaan-p’erusahaan Jepang dan Jerman telah membuktikan kepada per-usahaan-perusahaan Amerika yang menggunakan strategi lompatan besar bahwa mereka meng-gunakan strategi langkah kecil, namun akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan teknologi maju. Mereka memang tidak sama cepat, tetapi kalau diberi waktu, akhirnya mampu juga menguasai. Dengan kata lain, dengan menggunakan strategi langkah kecil, tidak berarti perusahaan tersebut lalu tidak mampu mengadakan lompatan besar. Malahan perusahaan yang biasa menyempurnakan diri secara berangsur, dengan langkah-langkah kecil, yang mempunyai keahlian seimbang antara atas dan bawah, mungkin akan lebih siap untuk membuat lompatan besar daripada suatu perusahaan yang sudah lama tidak mengalami usaha penyempurnaan. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif edisi Desember 1989

9 Ilmu Online Paling Ampuh yang akan Membuatmu Makin Pintar dan Tajir. Pelajari ilmunya disini.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!