Headhunter dan Pembajakan Karyawan

Problem pembajakan tenaga kerja ma-kin terasa. Berbagai faktor di dalam dan di luar perusahaan memungkinkan gejala tersebut makin berkembang. Bagaimana cara menanggulanginya? “Ikatan hukum kurang kuat dibandingkan dengan ikatan batin,” kata seorang pakar.

Joko Sudibyo, seorang eksekutif pabrik pelat baja, PT Cold Rolling Mill Indonesia (CRMI), melontarkan keluh kesah. CRMI, pabrik yang berteknologi cukup tinggi ini, kini berkaryawan sekitar 2.000. Dari jumlah tersebut, 230 karyawan sempat dikirim ke luar negeri untuk diikutsertakan dalam berbagai latihan, dengan jangka waktu bervariasi antara 6 sampai 18 bulan.

Namun Djoko sekarang kesal karena perilaku tenaga profesional yang dikatakannya bersikap mirip “bajing Ioncat”. Tidak sedikit karyawan CRMI yang sekembali dari latihan justru hengkang dari pekerjaannya. Padahal tenaga yang rata-rata sarjana tadi sudah mengikat kontrak untuk bekerja paling sedikit selama 5 tahun, dan bila ingkar, mereka harus mengganti kerugian pada perusahaan antara Rp.15 sampai 18 juta.

“Tapi mereka tetap don’t care, “ungkap Djoko. Yang lebih menyakitkan, gaji si karyawan di tempat kerja yang baru hanya berselisih sekitar Rp. 200 ribu dari gaji di CRMI.

Belum tentu si karyawan tadi pindah kerja karena dibajak oleh perusahaan lain; bisa saja hal itu karena inisiatif si karyawan sendiri. Tapi bahwasannya gejala makin mudahnya sebuah perusahaan kehilangan teanga-tenaga potensialnya, kini makin nyata, “Banyak karyawan kami yang pindah ke perusahaan kontraktor bagi hasil. Mereka umumnya lulusan perguruan tinggi dengan rata-rata pengalaman kerja di bawah lima tahun, “tutur Budiman, eksekutif Elnusa, perusahaan kontraktor di bidang perminyakan. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentai yang bagus tentang career management dan HR strategy, silakan KLIK DISINI ).

Demikian pula kasus yang terjadi di perusahaan PMA di bidang farmasi, PT Hoechst Indonesia, “Kami heran,. Semua jaminan social, gaji, dan kegiatan olahraga terpenuhi, namun masih banyak pegawi yang kelua,” ujar seorang eksekutif perusahaan ini, Soro Atmojo, “Mobilitas perpindahan kerja para sarjana yang baru lulus memang sudah merupakan gejala umum di Indonesia,” kata Prof, Dr. Ashar Sunyoto Munandar, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, ketika berbicara pada seminar Pembajakan dan perpindahan Tenaga Kerja yang diselenggarakan Perhimpunan Manajemen Personalia Indonesia (PMPI), di Jakarta.

Dinyatakan oleh Munandar, kebutuhan akan tenaga trampil dan memiliki good managerial skills yang ternyata langka di pasaran tenaga kerja merupakan penyebab utama dari tindakan-tindakan tidak etis dalam bentuk pembajakan tenaga kerja. “Tap! tentunya hal itu tidak akan terjadi kalau tidak ada mau sama mau,” kata ahli manajemen kepegawaian, H.S. Mulianto, dalam seminar yang sama.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Menurut Mulianto, pembajakan tenaga kerja bukan suatu yang baru. Hal itu sudah sejak lama terjadi, kendati kejadiannya sering tidak dibesar-besarkan atau di-exposed. Kegiatan “Head Hunter” atau “Executive Searcher” sudah lama diketahui, bahkan sudah menjadi bisnis yang cukup menarik, termasuk di Jakarta.

Maka dalam hal ini, yang dipersoalkan antara lain mehgapa karyawan mau dibajak? Atau menurut ungkapan H.S. Mulianto, kenapa karyawan bahkan menunggu untuk dibajak. Dan jawabannya ada dua: (1) Karena si karyawan yang bersangkutan tidak terpenuhi keinginannya; dan (2) karena ada kesempatan di perusahaan lain. “Kedua sebab hams ada. Kalau salah satu tidak ada, tidak akan terjadi karyawan keluar untuk pindah ke perusahaan lain,” kata Mulianto.

Ahli manajemen tersebut kemudian mengungkapkan hasil pemantauan berdasar sejumlah wawancara yang pernah dilakukannya. Dari pengalaman itu dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang calon karyawan melamar di sebuah perusahaan dengan pertimbangan: ingin mendapat gaji yang lebih besar, mendapat jaminan kesejahteraan yang lebih baik, memperoleh kesem¬patan training, dan ingin mengembangkan karir.

Dari pemantauan yang sama, terungkap pula sebab-sebab seorang karyawan keluar dari pekerjaannya yang sekaligus merupakan indikasi adanya keinginan yang tak terpenuhi antara lain: merasakan perlakuan yang tidak adil; tugas dan tanggung jawab besar namun wewenang kecil, atau bahkan tidak ada; suasana kerja yang tidak baik; dan kesempatan berkembang tertutup. “Untuk menghindarkan agar karyawan tidak keluar, atau tidak mau dibajak orang, hal-hal tersebut harus diatasi,” kata Mulianto.

Kontrak Kerja Psikologis
Hampir senada, A.S. Munandar juga menge-mukakan faktor-faktor luar dan dalam yang menentukan besar-kecilnya kemungkinan keberhasilan suatu pembajakan tenaga kerja. Disebutkan bahwa masalah loyalitas ikut pula ditentukan oleh interaksi si karyawan dan lingkungannya.

Faktor-faktor dari luar yang dapat menarik tenaga kerja untuk mau dibajak, atau pindah kerja, antara lain:

(1) Adanya imbalan yang lebih baik dari yang diterima di tempat kerjanya yang sekarang;
(2) Faktor ketrampilan atau keahlian yang langka yang diperlukan oleh banyak perusahaan;
(3) Faktor banyaknya kesempatan kerja sehingga tenaga kerja dapat memilih memasuki pekerjaan yang disukai.

Adapun faktor-faktor dalam diri tenaga kerja yang menyebabkan ia relatif sulit atau menolak untuk dibajak atau pindah kerja:
(1) Adanya rasa keterikatan dengan pekerjaannya, dengan perusahaannya, dan kepuasan terhadap keterlibatan di lembaganya selama ini;
(2) Kepuasan karena gaji dan fasilitas yang dirasakan lebih baik dibanding di tempat lain; hubungan antar tenaga kerja yang menyenangkan, dan sebagainya;
(3) Dimilikinya sikap untuk mendahulukan kepentingan orang lain, kelompok, dan organisasi kerja dari pada kepentingan diri sendiri;
(4) Adanya suasa¬na moral perusahaan yang kuat, di mana etika perusahaan benar-benar dipegang secara teguh.

Guru Besar UI tersebut kemudian memperkenalkan istilah “kontrak kerja psikologis”, yang berbeda dengan kontrak kerja berdasarkan hukum yang dikenal selama ini. Maksudnya, adanya kesediaan pada tenaga kerja untuk bekerja di suatu organisasi perusahaan, maka diasumsikan ia telah menerima segala kebijakan dan peraturan perusahaan dan akan berusaha memenuhi harapan-harapan dari perusahaan terhadap dirinya (menjalankan tugas dengan baik, rajin, tekun, dan sebagainya). Sebaliknya, tenaga kerja juga beranggapan bahwa perusahaan akan dapat memenuhi segala harapannya (memberi gaji yang cukup, adanya kesempatan membuat karir yang baik, memberi jaminan kesejahteraan hidup, dan sebagainya).

Dalam kondisi di mana kontrak kerja berdasarkan hukum belum merupakan jaminan, maka perusahaan dituntut untuk lebih-lebih lagi memperhatikan hal-hal tersebut. “Masalahnya, ikatan secara hukum di negeri ini belum dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten, bahkan ada kesan ikatan hukum kurang kuat dibandingkan ikatan batin.”

Menurut Munandar, pindahnya seorang karyawan dari suatu perusahaan merupakan hak pribadi dari setiap individu. Dan memang disinyalir, gejala pindah kerja di Indonesia kini ma-kin naik. Artinya, seseorang masuk bekerja un-tuk pertama kalinya di suatu perusahaan, mung-kin tidak dengan maksud bekerja terus-menerus di sana, melainkan untuk terus ke perusahaan lain. “Tapi gejala ini tidak khas Indonesia saja,” tutur Munandar.

Kembali ke Djoko Sudibyo, eksekutif CRMI yang merasa banyak kehilangan tenaga kerja potensialnya, akhirnya diakuinya bahwa hal itu terjadi mungkin karena “janji-janji gombal” dari manajemen perusahaan itu sendiri sebelumnya. Seorang Amerika yang menjabat General Manager CRMI terdahulu pernah menyatakan bah¬wa para insinyur sekembali dari latihan di luar negeri akan memperoleh rumah, promosi jabatan, maupun fasilitas lainnya. Dalam prakteknya, itu hanya sekedar janji karena memang tidak ada rencana perusahaan seperti itu. Hasilnya, banyak tenaga profesional keluar dari perusahaan.

(Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentai yang bagus tentang career management dan HR strategy, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif edisi Februari 1989.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!