Kunci Sukses Strategi Bisnis

Beberapa strategi usaha memperkenalkan inovasi. Dalam tulisan ini, strategi itu sendiri adalah inovasi. Produk atau jasa yang kita kenal sekarang mungkin telah ada semenjak lama. Namun lewat strategi, produk atau jasa tersebut akan menjadi kian mantap, dan menjadi sesuatu yang baru dalam arti, misalnya, kegunaannya, nilainya, dan karakter ekonominya.

Secara fisik, boleh jadi ia tidak mengalami perubahan, namun secara ekonomi ia berubah menjadi sesuatu yang lain dan baru. Itulah esensi dari pengertian strategi yang akan diungkapkan di sini, yang hakekatnya adalah bagai-mana menciptakan konsumen dalam artian bisnis dan ekonomi. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang business strategy dan marketing management, silakan klik DISINI ).

Ada empat jalan, demikian ungkap Peter F. Drucker, guna mencapai target yang dimaksud, yakni: (1) penciptaan kebutuhan, (2) kebijaksanaan harga, (3) adaptasi dan pengkajian atas kenyataan sosial dan ekonomi konsumen, dan (4) memberikan nilai yang sebenarnya kepada konsumen.

Menciptakan Kebutuhan Pada Konsumen. Banyak mempelai wanita yang menginginkan satu set piring-cangkir yang bagus. Kita tahu bahwa barang yang dimaksud harganya kelewat mahal. Hadiah-hadiah yang diterima pengantin tidak ada yang semahal itu. Atau dengan kata lain, hadiah-hadiah itu bukan yang diinginkan oleh pengantin hingga “makna” atau “nilai” dan manfaatnya pun berkurang bagi sang pengantin.

Sebuah produsen perlengkapan/perabot makan, namanya Lenox China Company, melihat hal itu sebagai peluang untuk melakukan inovasi. Gagasan itu kemudian diekspresikan dengan mengadaptasi dan memodifikasi produk-produknya, dengan menciptakan berbagai barang untuk kado bagi pengantin baru. Hasilnya ternyata luar biasa. Masyarakat tertarik, dan perusahaan mampu menyedot konsumen yang banyak. Suatu pasar yang potensial berhasil digarap secara cemerlang.

Pedagang pecah-belah, apabila konsumen atau kawan-kawan pengantin menghampirinya, tinggal berkata ramah: “Berapa uang yang ingin Anda keluarkan untuk kado tersebut?” Lalu dia menjelaskan: “Dengan uang sejumlah itu Anda akan menerima dua cangkir kopi plus tatakannya”, demikian seterusnya. Atau, dia, pedagang itu, dapat pula berkata merayu: “Dia (maksudnya sang pengatin) pasti menyukai cangkir kopi ini”, atau “Dia membutuhkan baki”.

Alhasil, sang pengantin berbahagia, yang memberi kado berbahagia, dan terlebih lagi Lenox China Company. Dan, Anda tahu, untuk semua sukses gemilang itu, perusahaan tak perlu mendatangkan teknologi canggih atau hak patent. Yang dilakukan perusahaan hanyalah memfokuskan diri kepada barang-barang yang dibutuhkan konsumen. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang business strategy dan marketing management, silakan klik DISINI ).

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Kebjjaksanaan Harga. Perusahaan Gillette tidaklah memproduksi dan menjual pisau cukuryang lebih baik dari produsen lainnya. la juga tidak mendaftarkan produknya itu kepada lembaga patent setempat, kala pertama kali berproduksi di abad-19. Kecuali itu, ongkos pro-duksinya juga ternyata lebih mahal. Tapi, Gillette tidak kehilangan akal, tidak kehilangan inovasi. la tidak “menjual pisau, sebab kalau itu (menjual pisau) yang dilakukan, tak ada apa-apanya, tak bakal mengukir sejarah.

Apa yang dilakukan? Ternyata, fokusnya ada pada bagaimana dia merancang “alat cukur”nya; sedemikian rupa sehingga hanya bisa dipakai untuk pisau cukur produk-nya. Lalu Gillette langsung mendaftarkannya di lembaga patent. Untuk alat cukur itu, yang ongkos produksinya kurang dari satu sen per buah, bisa dijual kepada konsu-men seharga 5 sen per buah! Alat cukur itu, yang dirancang agar bisa dipakai enam atau tujuh kali, atau berarti kurang dari satu sen setiap kali pemakaian, toh masih lebih murah 10% dibanding apabila konsumen mencukurkan jenggot atau kumisnya ke pemangkas rambut.

Jadi, strategi yang dilakukan Gillette dalam menentukan “harga” adalah atas dasar apa yang mau di-beli oleh konsumen, dan bukan apa yang dijual oleh produsen/pabrik. Sungguhpun pada akhirnya, konsumen yang “terjerat” oleh Gillette kenyataanya harus mengeluarkan uang lebih banyak ketimbang kalau dia membeli pisau cukur konvensional dari kompetitornya.

Memang, kebijaksanaan harga yang baik adalah yang memungkinkan konsumen untuk membayar apa yang mereka mau beli, dan bukan untuk apa yang dibuat oleh produsen. Yang penting disadari: bagaimana merancang dan menetapkan harga hingga dapat menimbulkan kebutuhan, dan sesuai dengan realitas konsumen. Dengan kata lain, apa yang dibayar oleh konsumen adalah “nilai”, bukannya “biaya” yang dikeluarkan produsen.

Realitas Konsumen. Dalam tahun 1980-an, desain produk dan realitas konsumen mendadak mengalami perubahan yang mendorong lahirnya sistem pembelian secara angsuran. Cyrus McCormick adalah satu dari sejumlah pengusaha Amerika yang peka pada perubahan. Kecuali itu, kelebihannya adalah: dia kreatif dan inovatif hingga mampu mengeduk keuntungan/ manfaat dari situasi sosial-ekonomi masyarakat kala itu.

Dia, seperti juga pengusaha lain, menilai bahwa petani tidak memiliki daya beli yang kuat. Untuk itu, agar barang/peralatan pertanian yang diproduksinya bisa terjual, pe-tani diminta membeli dengan cara pembayaran dua atau tiga kali angsuran. Hal itu, boleh dikata, merupakan kesepakatan di antara penguĀ¬saha. Namun dalam prakteknya, ternyata tidak mudah. Pasalnya, tidak satu pun bank yang mau bertindak sebagai penjamin. Cormick lalu muncul dengan gagasannya: ia menawarkan kepada para petani kredit, yang pembayarannya dapat dilakukan setelah masa panen tiga tahun.

Karuan saja, para petani menyambutnya dengan antusias, dan mereka mendatangi Cormick. Dan di sini terbukti bahwa mereka bukanlah konsumen yang irrasional, karena sesungguhnya mereka memiliki pertimbangan yang rasional. Realitas mereka, petani, betapa pun berbeda dengan kalangan lain; pengusaha misalnya. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang business strategy dan marketing management, silakan klik DISINI ).

Memberikan Nilai Kepada Konsumen. Strategi inovatif pada dasarnya memberikan sesuatu “nilai” kepada konsumen, dan bukan sesuatu “produk” kepada produsen. Secara kongkret, strategi berikut ini adalah kelanjutan dari apa yang telah dikemukakan.

Sebuah perusahaan menengah di Amerika Tengah mensuplai lebih separuh dari seluruh kebutuhan minyak pelumas khusus. Padahal di kawasan itu, ia harus bersaing dengan sejumlah perusahaan sejenis yang berskala raksasa, yang sebenarnya lebih berkemampuan untuk mensuplai seluruh kebutuhan minyak pelumas.

Tapi, mengapa harus perusahaan kelas menengah itu yang keluar seĀ¬bagai pemenang? Tiada lain, sebut Peter Drucker, karena Midwestern demikian nama perusahaan jempolan itu bersaing dengan cara: menjual minyak pelumas jenis tertentu saja, jenis yang dinyatakan “terbaik”. Bahkan apa yang dijualnya, kalau dikaji, ternyata adalah “jaminan”. Dengan kata lain, ia menawarkan “nilai” kepada para kontraktor/konsumen.

Midwestern menawarkan kepada para kontraktor fakta bahwa: “Anda setiap saat mengalami kerugian akibat mesin atau peralatan yang macet-tidak bekerja; nilai kerugiannya lebih tinggi daripada kalau Anda memakai (baca: membeli) minyak pelumas yang terbaik ….” Di sini tampak, Midwestern melakukan pengkajian yang cerrriat dan cerdik, dan menawarkan sebuah kajian rasional akan pentingnya perawatan segenap peralatan kontraktor. Selain itu, perusahaan ini menampilkan program perawatan tahunan, lengkap dengan jaminan bahwa para langganan tak akan lagi mengalami kerugian waktu dan dana secara percuma akibat tak beroperasinya mesin/peralatan mereka. Hasilnya: Midwestern meraih lebih 50% porsi pasar minyak pelumas.

Jadi, pada dasaraya, strategi usaha tetap merupakan bidang pengambilan keputusan para pengusaha, dan karena itu senantiasa mengandung segi risiko. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang business strategy dan marketing management, silakan klik DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Maret 1986

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!