Impression Management : Kiat Ampuh Menampilkan Diri

Bagi para manajer yang ingin maju, persaingan horizontal antar sesama mungkin terasa kian sengit. Agar bisa maju, tak cukup kiranya hanya mengandalkan pada hasrat kuat untuk kerja keras, atau citra positif berkat prestasi; karena keduanya belum tentu menghasilkan promosi jabatan atau kenaikan gaji.

Yang lebih berperan, kata banyak ahli, adalah penampilan. Penampilan di tempat kerja, di mata rekan, di muka relasi, dan ….di hadapan Boss. (Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

Tak terhitung lagi literatur ataupun petunjuk praktis bagi para manajer yang mengemukakan bahwa untuk dapat maju dalam karir, kerja keras dan disiplin adalah resepnya. Dengan bekerja keras secara disiplin, tak ayal ini akan membuahkan hasil-hasil yang konkrit dan positif bagi perusahaan. Prestasi pekerja atau manajer yang demikian akan diperhatikan dan dicatat. Motivasi kerjanya, efisiensinya, kontribusinya, semua akan dicatat, dan dicatat,… dan dicatat.

Pencatatan belum tentu membawa promosi yang telah diharap-harapkan. Bahkan belum tentu mengakibatkan peningkatan dalam penghasilan sang manajer yang keras kerjanya dan berdisiplin itu. Mengapa bisa begini?

Walaupun jawaban untuk pertanyaan di atas rasanya bisa teramat banyak, tetapi ada dua hal penting yang patut dipertimbangkan sebagai penentu. Pertama, dalam suatu perusahaan yang relatif besar (yang memungkinkan seorang manajer untuk bergerak ke atas — “upward-mobile”), maka seorang manajer yang sudah mapan tidaklah sendirian, dalam arti terdapat banyak manajer lain yang tak kalah rajin dan berdisiplin. Kedua, atasan si manajer, sebagai pihak yang berhak memberi atau merekomendasikan promosi, pasti orang yang sibuk, sehingga mungkin tak punya banyak waktu untuk memperhatikan secara mendetail kemajuan-kemajuan prestasi bawahannya itu.

Menampilkan Diri
Dalam kondisi seperti itu, maka kemajuan karir sang manajer semakin ditentukan oleh seberapa banyak perhatian yang diarahkan pada dirinya dari orang lain, terutama dari atasannya atau pimpinan perusahaan. Kerja keras, citra atau image, ternyata menduduki tempat kedua sesudah penampilan; sebagai faktor-faktor yang paling berperan dalam karir seseorang.

Seorang konsultan pengembangan manajemen untuk sejumlah perusahaan besar di Amerika (di antaranya, AT&T, Coca-cola, dan Merck), Harvey Co-leman bahkan mengatakan bahwa penampilan punya bobot 60% dalam menentukan kenaikan jabatan seseorang manajer. Kerja keras bo-botnya hanya 10%, sedangkan citra atau image bobotnya 30%. Ini mungkin penilaian yang agak berle-bihan, tetapi bila disimak lebih lanjut memang tampaknya banyak benarnya.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Bayangkan, dalam suatu erusahaan yang relatif besar sudah pasti manajer yang tergolong pekerja keras (bahkan yang “workaholic”) tak hanya satu-dua tetapi bisa belasan jumlahnya. Tak sedikit pula yang citranya cukup baik, seiring dengan prestasi kerjanya. Oleh karena itu wajarlah bila faktor signifikan bagi promosi seorang manajer akhirnya terletak pada seberapa sering perhatian pimpinan disorotkan padanya: “Exposure” — kalau menggunakan istilah dari Harvey Coleman. Ini berarti, promosi (ataupun kenaikan gaji) sedikit banyak ditentukan pula oleh berapa banyak atasan-atasan yang sudah kenal pada manajer tersebut dan tahu pula akan kontribusinya pada perusahaan.

Ada dugaan (oleh sementara ahli macam Coleman) bahwa mayoritas manajer perusahaan masih terbenam dalam semacam “mitos palsu”, dimana pekerja keras otomatis akan diperhatikan oleh atasan dan dinaikkan ke posisi yang lebih tinggi. Belum tentu! Dan ini memang dapat disaksikan sendiri berdasarkan pengalaman: bahwa individu yang bisa “maju” di suatu perusahaan adalah orang-orang yang mampu menampilkan diri secara baik dan sering di saat-saat yang penting. (Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

Caranya
Menampilkan diri bukanlah sekedar mempertontonkan diri (atau, kasarnya, “mencari muka”) pada setiap kesempatan. Bukan pula bertindak atau berbicara sedemikian rupa sehingga bisa dinilai terlampau ambisius (walau ambisi itu sendiri amat penting untuk maju).

Upaya menampilkan diri ini sebenarnya dapat dimulai dengan mudah, yaitu dengan tidak banyak bicara dahulu tetapi lebih banyak mendengarkan dan mengamati dinamika lingkungan kerja, rekan kerja, kebiasaan-kebiasaan setempat dan hal-hal sejenis. Dalam kata-kata Prof. John Clemens, ahli mana-jemen dari Hartwick College di New York, “Start by being invisible. Shut up and become eyes and ears.” Ini pula yang menjadi rumus pertama buku manajemen ternama “In Search of Excellence“; cara ini di-sebut sebagai teknik manajemen melalui penjelajahan (management by wandering around technique).

Sambil menjelajahi lingkungan, ada baiknya bila sekaligus menginventarisasi berbagai permasalahan yang dihadapi perusahaan, dan mencari beberapa yang penyelesaiannya dapat melibatkan diri sebisa mungkin tanpa menyinggung perasaan atau melangkahi wewenang pihak lain. Masalah-masalah ini tak usah yang besar-besar skalanya tetapi cukup yang kecil-kecil saja, yang oleh berbagai pihak memang dirasakan sebagai “duri” atau “kerikil” yang mengganggu. Intinya di sini ialah: jangan sekedar melihat dan melaporkan permasalahan tertentu, tetapi cobalah berperan dalam pemecahannya. Paling tidak, ini akan memperbesar kemungkinan nama Anda muncul dalam berbagai laporan kegiatan perusahaan, yang berarti … exposure, tentunya.

Salah satu jalan yang tercepat un¬tuk bisa tampil ialah dengan menempatkan diri kalau perlu sebagai relawan dalam berbagai satuan tugas yang tujuannya menunjang kegiatan-kegiatan utama perusahaan. Syukur-syukur apabila satuan tugas ini dibentuk dalam rangka “trouble-shooting” suatu kegiatan yang macet di tengah jalan. Kalau berhasil membereskan masalahnya hingga kegiatan lancar kembali, maka kredit poin akan diperoleh; sebaliknya, kalau gagal, toh bukan Anda yang menyebabkan timbulnya masalah, sehingga kemungkinan dipersalahkan pun akan lebih kecil.

Jalan lain yang bisa ditempuh ialah dengan mengusahakan memperoleh jabatan di bagian yang fungsional di perusahaan, dalam arti bagian yang terlibat langsung dalam jalannya serta berkembangnya perusahaan; bukan bagian yang sifatnya menunjang kegiatan utama perusahaan. Misalnya, bisa seseorang bekerja di perusahaan manufaktur setengah jadi, maka bagian yang menawarkan kesempatan ex¬posure yang paling besar adalah yang terlibat dalam proses produksi barang itu sendiri seperti di bagian produksi atau di bagian pengendali mutu.

Berbeda, misalnya, dengan perusahaan yang bergerak dalam penjualan barang-barang konsumsi, consumer goods; yang lebih memegang peran dan, sebagai konsekuensi, lebih banyak disorot pim-pinan adalah bagian “hilir” dari kegiatan perusahaan seperti bagian pemasaran atau yang sejenisnya. Bagian produksi di sini tidaklah sevital bagian pemasaran, yang harus melariskan produksi perusahaan di antara sekian banyak saingan dalam suatu pasaran yang berorientasi pada pembeli.

Ini beberapa petunjuk umum yang dapat digunakan oleh para manajer yang setuju bahwa penampilan merupakan hal penting dalam upaya meniti karir. Dan memang petunjuk tersebut mengandaikan usaha dari individu yang bersangkutan sendiri.

Katrolan

Tak tertutup kemungkinan, memang, bahwa seorang manajer maju atas jasa pihak lain di luar dirinya, misalnya “dikatrol” oleh atasan yang punya hubungan atau obligasi tertentu padanya, atau juga manajer tersebut menjadi anggota suatu klik yang diketahui merupakan “ruling elite” di perusahaan tersebut.

Terlepas dari kenyataan bahwa karir dapat maju atas dasar hubungan ini, tak dapat disangkal bahwa hal itu jelas akan menimbulkan hubungan antar-pribadi yang tak serasi dengan pihak-pihak atau rekan-rekan yang merasa tak kalah kontribusinya pada perusahaan dan sewajarnya mendapat perhatian dan perlakuan yang sama.

Di luar itu juga masih ada ke¬mungkinan bahwa atasan yang mengatrol itu suatu saat akan jatuh, atau klik tempat ia tergabung kelak akan hilang kekuatannya. Bila demikian kejadiannya, maka kedudukan manajer yang sempat dikatrol itu bisa dibayangkan akan mulai goyah sehingga akhirnya keberadaannya dalam jabatan itu harus berpangku lagi pada kemampuannya dan … kecekatannya untuk menampilkan diri secara positif.

(Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Maret 1986.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!