Kunci Sukses Manajer Asing (Ekspatriat) di Indonesia

Lewat wawancara dengan Ahmad D. Habir dan Bryony Conway, 6 manajer asing yang sukses di Indonesia membuat kesimpulan tentang sikap dan perilaku bagaimanakah yang sebaiknya dipunyai oleh para manajer asing supaya dapat sukses di Indonesia.

Para manajer itu memberikan fokus pada pentingnya sikap menahan diri, sensivitas antar-budaya, dan hubungan antar pribadi dalam manajemen, baik manajemen dalam hubungannya dengan karyawan, dengan partner, dengan pemerintah, dengan kantor pusat, maupun dengan keluarga. (Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills, leadership dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

Bagi manajer asing, Indonesia dikenal sebagai tempat tugas yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan frustrasi. Tetapi ada manajer-manajer asing yang ternyata sangat berhasil di sini. Bagaimana caranya?

Enam manajer asing yang dianggap sangat berhasil oleh atasannya telah memberikan pendapatnya seorang managing director berkebangsaan Amerika di sebuah perusahaan patungan Amerika-Indonesia, seorang general manager berkebangsaan Kanada yang memimpin sebuah perusahaan Inggris, seorang manajer berkebangsaan Australia yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan internasional, seorang penasihat senior berkebangsaan Pakistan di sebuah perusahaan Amerika, seorang penasihat teknik berkebangsaan Inggris di sebuah perusahaan Inggris, dan seorang general manager berkebangsaan Belanda di perusahaan patungan Belanda-Indonesia.

Faktor-faktor Terpenting

Sukses di Indonesia apa artinya? Artinya, dia bisa efektif dalam menjalankan tugas yang dibebankan padanya. Tetapi dalam konteks yang khas ini, manajer asing dituntut untuk mempunyai kemampuan lebih dari itu. Dari hasil-hasil wawancara tampak jelas bahwa dia tidak bisa efektif secara profesional tanpa berusaha menyesuaikah diri dengan situasi di Indonesia. Kata manajer Pakistan itu, “Kita harus berusaha untuk bisa mengerti keadaan di sini, sehingga kita tidak hanya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi juga mau memberikan sumbangan. Karena itu, kita perlu mengerti lingkungan kita.”

Kantor-kantor pusat memang merasa khawatir tentang persyaratan dan pengalaman yang dituntut dari eksekutif-eksekutif yang mere-ka kirim ke luar negeri itu. Tetapi para eksekutif itu sendiri ternyata tidak terlalu khawatir. Bagi mereka, yang menentukan sukses tidaknya pekerjaan adalah kemampuan me¬reka untuk menyesuaikan diri dalam hubungan antar-budaya.

Penyesuaian Awal
Pendatang baru biasanya sangat dirugikan oleh ketidaktahuannya. Manajer Inggris jtu mengakui, “Saya melakukan banyak kesalahan sewaktu mula-mula datang di Indonesia. Kita tidak bisa datang ke Indonesia dan langsung mengatakan ‘situasi ini buruk sekali’, lalu mengadakan perubahan-perubahan dengan sikap keras kepala. Sikap demikian tidak bisa dipakai di Indonesia.”

Penyesuaian diri pada tahap awal inilah yang seringkali menentukan apakah manajer asing itu kemudian akan dapat mengadakan penyesuaian secara umum. Selain itu, diperlukan waktu, juga usaha, untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma dan tatanan moral yang berlaku di Indonesia. “Kita harus membiasakan diri dengan Indonesia. Saya rasa perlu waktu selama hampir dua tahun untuk itu,” kata manajer Belanda.

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Pendatang baru yang tidak me-ngenal cara-cara Indonesia akhirnya akan merugikan posisi perusahaan. Kata manajer Australia itu, “Kita pendatang di sini, dan walaupun kita juga memberikan sumbangan, tetapi ada martabat nasional dan budaya yang mungkin samasekali tidak dikenal pendatang baru. Pendatang baru mungkin berpikir, cara inilah yang saya pakai di negara saya dan ini cara yang paling efektif. Sikap demikian itu akan menjauhkannya dari orang-orang Indonesia dan dalam jangka panjang akan mempengaruhi performance perusahaan.”

Pada tahap awal, pendatang baru perlu siap mental untuk belajar, untuk terbuka pada ide-ide dan pendekatan-pendekatan baru. “Kita harus benar-benar terbuka,” kata manajer Amerika. Mengenang pengalamannya pada bulan-bulan pertama di Indonesia, manajer Inggris. itu berkata, “Saya tidak akan mela-kukan apa yang saya lakukan waktu itu … saya tidak akan tergesa-gesa dan akan mempelajari bagaimana situasinya sebelum mengadakan perubahan-perubahan.”

Manajer Belanda menyarankan, “Kita harus lebih terlibat dengan orang-orang Indonesia dan hal-hal yang khas Indonesia,” katanya me-nasehati. “Sekalipun tidak mengerti bahasanya, datanglah ke pertemuan-pertemuan dan lihatlah me-reka. Amati, amati, amati!”

Wakilnya selalu hadir dalam pertemuan-pertemuari di perusahaan dan dalam diskusi-diskusi dengan pihak pemerintah, tetapi diminta untuk diam, mengamati dan belajar. Dan setelah itu dia dan wakilnya itu akan membicarakan apa yang telah terjadi, apa yang telah dikatakan dan mengapa, dan apa yang belum dikatakan.

Bisa menghayati kebudayaan In¬donesia merupakan keharusan dan penting artinya. “Kalau kita meremehkan soal ini,” kata manajer Kanada, “kita akan menemui kesulitan. Orang asing sulit sekali menerima ini, meskipun yang senior sekalipun.” “Kalau kita mencoba menerobosnya,” tegas manajer Amerika, “Kita akan sia-sia saja.”

Ketrampilan dan Kemampuan
Para eksekutif dan peneliti telah menyusun daftar panjang mengenai persyaratan apa yang harus dimiliki untuk bisa sukses di tempat asing. Tetapi tiap tempat mempunyai sifat unik dan membutuhkan pendekatan yang agak berbeda. Para manajer yang dianggap sangat sukses di Indonesia telah dimintai pendapat mengenai hal ini. Menurut mereka, ada tujuh persyaratan: 1. memiliki keinginan untuk belajar, untuk mengerti; 2. sikap menahan diri; 3. sikap menghormati; 4. kemampuan membangun hubungan antar-pribadi yang baik; 5. jujur; 6. fleksibel; dan 7. memiliki kemampuan berkomunikasi.

Ingin Belajar
Mau belajar bukan hanya relevan untuk pendatang baru, tetapi juga untuk orang asing yang veteran sekalipun. Di satu pihak, ini mencerminkan keinginan intelektual untuk tahu lebih banyak; keinginan untuk mengerti mengapa orang berperilaku dan memberi reaksi semacam itu. Di lain pihak, ini menunjukkan keterbukaan sikap, kemauan untuk menerima bahwa nilai-nilai dan pendekatan-pendekatan lain mungkin juga bisa diterima, kalau bukan bahkan lebih bisa diterima, daripada nilai-nilai dan pendekatan-pendekatan yang diketahui. (Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills, leadership dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

“Banyak hal di sini tidak didasarkan pada logika semata-mata,” kata manajer Kanada. “Mereka mengatakan, OK, Anda memberikan pen¬dekatan menurut logika. Kami tahu, itulah cara berpikir Anda. Sekarang kami berpikir atau membuat keputusan dengan menggunakan lebih banyak perasaan, dengan pen¬dekatan dari hati, dan logika tidak harus ada di dalamnya.”

Melalui kombinasi kesediaan dan keterbukaan untuk mau belajar inilah suatu individu memperoleh pengertian tentang kebudayaan di sini. “Kita juga menyerap kebudayaan itu,” kata manajer Amerika. “Itu pasti!”

Menahan Diri
Sikap menahan diri adalah sifat yang amat menonjol pada hubungan antar pribadi di kalangan orang-orang Jawa, dan nilai semacam itu memang banyak dianut di seluruh Asia. “Orang-orang Amerika mempunyai tendensi bersifat emosional dan tidak takut konflik,” kata manajer Amerika, “padahal di sini semuanya harus dilakukan untuk menghindari konflik.”

Orang Indonesia tidak menyukai konfrontasi langsung karena dia tidak suka membuat malu orang. “Kita tidak boleh menempatkan seseorang dalam posisi sulit sehingga membuat dia merasa malu.” Bersi-kap menahan diri berarti mampu mengatasi frustrasi. Di Indonesia banyak sekali hal-hal yang menimbulkan frustrasi seperti yang dikatakan oleh boleh dikatakan hampir semua manajer asing. Manajer Kanada berpendapat, cara terbaik untuk menghindari frustrasi adalah: sebanyak mungkin mengenali sistem-sistem atau peraturan-peraturan yang menjadi sumber frustrasi. Semakin dalam pengertian mengenai hal itu, semakin mudah menerimanya.

Dua aspek dalam menahan diri adalah sikap moderat dan sabar; hal-hal yang sulit dilakukan jika orang mengalami frustrasi besar. Manajer Amerika itu mengakui, “Saya mempunyai tendensi tidak sabar. Tetapi saya sudah berubah. Kalau kita mengintimidasi orang, kita tidak akan mendapat banyak dari dia.”

Rasa Hormat

Semua manajer asing yang diwawancarai menegaskan pentingnya menunjukkan rasa hormat yang wajar. Manajer Amerika itu menyebut Presdir di perusahaannya sebagai contoh. “Dia berperilaku adil dan berbuat adil kepada karyawannya, mengharapkan banyak dari mereka, tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada mereka. Saya rasa tiap organisasi Indonesia memerlukan ‘Bapak’, figur ayah, dan dia telah memainkan peran itu sangat baik.”

Rasa hormat perlu diperluas sampai ke tertib sosial. Kata manajer Australia, “Yang terpenting bukannya cara paling eflsien dalam bekerja, tetapi cara memelihara tertib sosial dan cara menjaga hubungan sosial.”

Orang asing sebaiknya juga menghormati lembaga dan kebijaksanaan yang ada di negara itu. Kata manajer Kanada, “Yang pertama-tama kita sadari, kita ini hidup di negara prang. Apakah kita setuju atau tidak setuju dengan banyak kebijaksanaan yang berlaku di sini, kenyataannya ini negara mereka. Ada sistem yang berlaku dan dibangun untuk alasan-alasan tertentu dan mereka tidak akan mengubahnya. Kita harus menghormati sistem mereka.”

Hubungan Antar Pribadi
“Kunci sukses adalah membangun hubungan,” demikian penilaian manajer Australia. “Kita di sini perlu sekali mengenal siapa yang berhadapan dengan kita dan membangun hubungan antar pribadi yang positif.” Kata orang Inggris, “Saya rasa jangan sampai kita bersikap ‘Kami manajer asing, kamu staf.’ Kita harus lebih banyak berhubungan dengan mereka.”

Tetapi tidak jarang orang-orang asing itu kemudian menarik diri dan berkelompok antar mereka, melepaskan diri dari interaksi sosial dengan orang-orang Indonesia. Alasannya adalah stress. Faktor fatigue timbul karena usaha keras dan sensitivitas yang diperlukan untuk hidup dalam lingkungan kebu-dayaan baru, khususnya karena yang serba halus dalam kebudayaan Indonesia.

Tetapi, kalau itu penjelasannya, toh kenyataannya yang paling suk¬ses adalah manajer-manajer asing yang mampu mengatasi stress. Mereka menyediakan waktu dan berusaha mengenal orang-orang Indo¬nesia yang bekerjasama dengan mereka apakah mereka itu karyawan, partner, atau pejabat pemerintah sebab hubungan antar pribadi yang baik merupakan persyaratan untuk bisa mengadakan hubungan bisnis yang efektif.

Dalam mengembangkan hubungan ini, perlu waktu dan kesabaran, seperti tercermin dalam pengalaman manajer Amerika itu: “Saya rasa kekeliruan orang-orang Amerika adalah karena mereka tidak biasa dengan proses mengenali siapa yang berhadapan dengan kita sebelum mereka memulai negosiasi penting …. Kita mengharapkan bisa datang dan mengadakan pertemuan dan mencapai hasil. Di Indonesia tidak bisa begitu.”

Sikap Jujur
Karena orang-orang Indonesia menghargai hubungan pribadi, maka sikap jujur penting artinya untuk mereka. Ini bukan sekedar sikap bermanis-manis tetapi suatu faktor yang dapat memberikan dampak besar pada bisnis yang dijalankan.

“Kami berusaha keras untuk memperlakukan manusia sebagai apa adanya,” kata manajer Amerika, “dan kami tidak mengalami kesulitan seperti yang banyak kami dengar sebelum kami datang, yakni bahwa karyawan-karyawan yang top sering pindah-pindah pekerjaan. Saya rasa tidak ada formula ajaib. Menurut saya, sikap bahwa kita sungguh-sungguh memikirkan kepentingan meieka harus ditunjukkan. Kalau kita palsu, mereka akan tahu.” Manajer Amerika itu mengenal nama 90 persen pegawainya dan mempelajari bahasa Indonesia secukupnya sehingga mampu mengadakan komunikasi verbal yang sederhana dengan orang-orang Indonesia, sekedar menanyakan bagaimana keadaan mereka.

Fleksibilitas
Untuk bisa mengerti bagaimana orang Indonesia bereaksi maka orang asing perlu melihat segala sesuatu dari perspektif budaya Indo¬nesia, dan ini memerlukan fleksibilitas intelektual. “Orang-orang Barat umumnya berpikir menurut logika dan prosedur,” kata manajer Australia. “Kalau cara itu diubah dan dianggap tidak penting, maka sulit bag! mereka untuk mengertinya.”

Dalam statemen itu terkandung pengertian bahwa mereka harus bersedia mengubah sikap, tidak kaku, dan mau menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya di tempat dia bekerja. Bagi manajer Australia, ini berarti mengusahakan pendekatan yang fleksibel antara perusahaan dan pemerintah. Bagi manajer Amerika: kemampuan untuk yakin sepenuhnya pada satu saat, dan juga merasa yakin ketika harus mengubah sikap pada saat berikutnya. Bagi manajer Pakistan cukup fleksibel untuk mengubah haluan.

Komunikasi
Sikap orang Indonesia yang selalu menghindari konflik juga mempengaruhi gaya komunikasinya mereka; enggan mengatakan “tidak”. “Banyak yang mengatakan ‘ya’, padahal maksudnya ‘tidak’. Kita harus bisa membacanya. Dan mereka mengatakan apa yang me¬reka kira saya ingin dengar, dan tidak mau memberi kabar buruk.”

Karena itu, komunikasi dua arah yang efektif memerlukan kesadar-an kultural dan sensitivitas. “Kita tidak perlu berpikir seperti mereka, tetapi kita harus tahu apa yang me¬reka pikirkan dan mengapa mereka berlaku demikian,” kata manajer Kanada. “Ada hal-hal penting yang tidak mereka katakan,” kata mana¬jer Belanda menambahkan.

Jadi, komunikasi dalam pengertian Indonesia terjadi dalam berbagai tingkat dan orang asing harus mam¬pu melihat apa arti di balik itu simbolisme masalah dan logika simbolisme itu … yang bisa amat penting artinya untuk orang Indo¬nesia.

Lima Jenis Hubungan

Dalam menjalankan manajemen, orang-orang asing di Indonesia mengadakan hubungan dengan: 1. karyawan, 2, partner, 3. peme-rintah, 4. kantor pusatnya, dan 5. keluarganya.

Dengan Karyawan
Manajemen di Indonesia berbeda sekali dengan manajemen di negara mereka masing-masing. “Di Indonesia, ini berarti mengatasi masalah dari hari ke hari. Ini sulit dan tidak habis-habisnya,” kata manajer Belanda. Menurut manajer Kanada, mereka harus melupakan apa posisi mereka dan mau lebih melibatkan diri. Harus mau mengi-kuti perkembangan tiap masalah.

Kata manajer Pakistan, “Manajer asing yang sukses mempunyai kemampuan menyerasikan kepentingan perusahaannya dengan aspirasi negara tuan rumah.” Artinya komitmen untuk ikut mengembangkan staf lokal karena Indonesia, seperti negara-negara sedang berkembang lainnya, sangat mendorong penyerahan manajemen kepada staf lokal.

Semua manajer asing menyatakan komitmennya untuk mengadakan latihan dan pengembangan. “Kami tidak hanya bicara tentang indonesianisasi. Kami juga memberikan kesempatan,” kata manajer Amerika. “Lebih dari itu, dengan orang-orang Indonesia ada etika kerja.”

Pada tingkat manajer, perusahaan Belanda tidak hanya melatih staf lokalnya dalam ketrampilan teknik dan manajemen, tetapi juga mengirim mereka ke Holland supaya mereka mengerti cara berpikir dan pendekatan manajemen orang Belanda. Bagi orang-orang Belanda, manajemen melibat saling pengertian antar-budaya yang prosesnya dua arah. Manajer Australia juga menyebut tentang pendidikan profesional dengan proses dua arah: “Ada orang-orang dan praktek-praktek yang hebat di Indonesia yang samasekali tidak dikenal dan belum pernah dicoba oleh orang-orang Barat. Kami juga dapat belajar banyak.”

Partner Lokal
Soal pemilihan partner yang pen-ting artinya bagi perusahaan asing di Indonesia tidak disebut-sebut oleh keenam manajer asing yang diwawancarai. Masalah-masalah membangun hubungan yang positif dengan partner lokal juga tidak mereka bicarakan. Ini mungkin karena sensitivitas politik maupun kenyataan bahwa semua pendapat yang mereka kemukakan tentang sensitivitas antar-budaya relevan sekali dengan masalah manajemen partner usaha patungan.

Hubungan Bisnis-Pemerintah
Boleh dikatakan semua respon-den sepakat bahwa sumber frustrasi terbesar adalah hubungannya dengan birokrasi pemerintahan. Mereka menyebut antara lain: tidak adanya koordinasi antar departemen yang mengakibatkan penafsiran tentang peraturan-peraturan menjadi berbeda-beda dan prosesnya menjadi amat lamban. Salah seorang responden mengatakan, “Kontrol oleh birokrasi kadang-kadang bisa berlebih-lebihan sifatnya.” Dalam hubungan inilah diperlukan kesabaran dan sikap mengendalikan diri yang luar biasa.

Nasihat praktis yang dapat diberikan tentang hal itu sederhana saja: “Serahkan pada orang Indonesia.” Minta nasihat partner Indonesia dan manajer-manajer Indonesia yang mengetahui dan mengerti sis-tern yang berlaku di Indonesia. Mereka akan tahu siapa orang yang harus ditemui dan bagaimana cara pendekatan yang terbaik.

Hubungan Dengan Kantor Pusat

Selain kerepotan belajar menjalankan manajemen dalam konteks setempat, manajer asing juga menghadapi masalah mengatur hu¬bungannya dengan kantor pusat, mencoba menjelaskan situasi lokal yang kompleks kepada kantor pusat yang mungkin tidak mempunyai pengertian atau apresiasi sama sekali mengenai hal itu.

Dalam hal ini ia terjebak di tengah-tengah: dia harus menghormati prioritas-prioritas Indonesia tetapi di lain pihak tidak boleh melupakan prioritas-prioritas kantor pusatnya. Komentar manajer Australia, “Dalam situasi semacam itu, kita seperti daging dalam sandwich, karena itu ada manajer-manajer asing yang mengalami cobaan psikologis yang cukup berat.”

Dengan Keluarga

Dukungan keluarga penting sekali artinya untuk sukses manajer asing. Pernyataan itu ditegaskan oleh para responden yang dengan jelas digambarkan oleh manajer dari Pakistan: “Manajer asing yang sukses sangat didukung oleh kehidupan keluarga yang serasi. Yang saya maksud, keluarganya juga bisa menghargai lingkungan sosio-kultural setempat.”

Kalau keluarganya tidak mampu menyesuaikan diri, “Sukses itu tidak bisa bertahan lama.” Menurut riset, alasan utama yang menyebab-kan kegagalan manajer asing adalah ketidakmampuan keluarganya untuk menyesuaikan diri. Dalam jangka panjang, keluarganya memainkan peranan penting.

Kesimpulan

Jelas bahwa bagi manajer-manajer asing, untuk bisa sukses dalam lingkungan Indonesia mereka dituntut mampu menjaga keseimbangan antar berbagai kepentingan yang kadang-kadang saling bertentangan kepentingan perusahaan, kantor pusat, pemerintahan setempat, karyawan, keluarga, dan yang juga penting, dirinya sendiri.

(Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang management skills, leadership dan personal development, silakan KLIK DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Januari 1987

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!