Bila Top Talent Mendadak Resign

PHK dalam perusaaan adalah hal yang biasa. Begitu juga pengunduran diri karyawan. Tapi bagaimana bila yang “hengkang” itu adalah karyawan andalan? Betapa ruginya perusahaan, kehilangan bintang pekerja yang produktif itu. Apa yang dapat Anda lakukan bila menghadapi situasi macam ini? Yang pasti, jangan marah dna jangan gelisah. Toh semua bisa diatur. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang Career Planning dan HR Management, silakan klik DISINI ).

Manajer mana yang tak senang pada karyawan yang baik. Sebagai anak buah, pekerjaannya selalu beres. Tak ada tugas yang terlalu sulit baginya. la bisa diandalkan; untuk menyelesaikan tugas-tugas yang mungkin berisiko tinggi (untuk gagal) bila didelegasikan pada karyawan lain. Tak hanya itu. Karyawan yang baik kesayangan Anda itu juga amat menguasai bidang tugasnya. Dengan fasih, rinci, dan tepat ia bisa menguraikan mengenai perkembangan pekerjaannya, bila ditanya. Sungguh tak berlebihan, apalagi bila dibanding dengan pegawai yang, lain, untuk memandangnya lebih dari yang lain. Ya, semacam “biritanglah dalam perusahaan yang Anda pimpin.

Suatu saat, di kantor, karyawan hebat ini minta bertemu Anda. Apa gerangan yang dikehendaki? Memang, dengan semakin dipercaya dan diandalkannya karyawan ini, maka semakin sering Anda memanggilnya ke ruangan Anda. Betapa tidak, sebagai pengembang tugas-tugas penting, wajar bagi karyawan terpercaya tadi untuk memperoleh pengarahan lebih banyak dari Anda. Dan, sebagai bawahan yang penuh inisiatif, seringpula ia datang ke Anda untuk mendiskusikan hal-hal yang memang patut untuk Anda ketahui. Dan, Anda pun kerap menikmati session-session macam ini karena menyegarkan dan melatih otak untuk senantiasa tajam-analitis.

Lantas apa maksud kedatangannya kali ini? Tampaknya bukan untuk sesi “brainstorming” guna mencari jalan keluar bagi suatu masalah pelik perusahaan. Soalnya gerak-geriknya tidak cekatan atau tegas seperti biasanya. Kali ini ia tampak agak canggung, kaku, dan tidak natural.

Mengagetkan

Dan memang, apa yang disampaikan sungguh menggemparkan; paling tidak bagi bathin Anda. Karyawan “bintang” yang begitu Anda respek ternyata ingin mengundurkan diri. Orang yang telah begitu dipercaya dan diandalkan, oleh organisasi maupun oleh Anda sendiri sebagai atas-annya, ternyata ingin keluar.

Anda mungkin berpikir: apa yang salah se-hingga ia mau keluar? Apa gajinya kurang? Apa perlakuan saya kurang memadai? Dan sebagainya. Pikiran-pikiran ini akan saling sambung-menyambung sehingga, pada ekstrimnya, bisa bersifat hostile: Memangnya dia apa, mau meng¬undurkan diri segala? Berani-beraninyadia, seolah tidak terihia kasih pada perusahaan!

Reaksi macam itu memang lazim muncul di kalangan atasan yang ditinggalkan oleh bawahan. Sejauh ini respons yang spontan dan sekilas itu memang tak menimbulkan masalah. Namun bila reaksi macam itu berkepanjangan (atau malah dibentuk dan dipertahankan), maka konse-kuensinya bisa counter-productive, bagi Anda sendiri, perusahaan, maupun anak buah yang bakal ciao.

Yang pasti, reaksi macam itu bakal membuat orang — lama-kelamaan — menjadi tidak seimbang secara psikologis. Hal ini akan membawa pengaruh pada performans kerja seseorang sehari-harinya. Hal yang pada dasarnya bisa merugikan perusahaan.

GRATIS - 7 materi presentasi yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Lagipula, jangan-jangan apa yang menjadi dasar keluarnya sang karyawan bintang itu merupakan hal-hal (negatif bagi karyawan) yang selama ini tidak diperhatikan perusahaan. Kalau begitu, kesalahan bisa diletakkan pada pundak perusahaan, dan Anda sendiri sebagai manajer turut bersalah. Paling tidak, sampai derajat bah-wa sebagai atasan Anda tidak sadar akan eksistensi kondisi-kondisi macam itu. Terbayang bahwa Anda pun akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisi serupa.

Lantas reaksi apa yang sebaiknya Anda tampilkan? Ya, terhadap karyawan mana pun yang hendak mengundurkan diri, maka respons yang lazim ditampilkan adalah rasa sedikit menyesal, yang lantas disusul dengan ucapan selamat dan doa agar karyawan itu berhasil di tugasnya yang baru. Itu yang standar. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang Career Planning dan HR Management, silakan klik DISINI ).

Namun, bila ini menyangkut karyawan yang sungguh-sungguh hendak Anda pertahankan, apakah respons macam itu memadai? Apalagi bila dalam hati Anda terbersit harapan bahwa melalui satu dan lain cara karyawan itu bisa dibuat berminat lagi untuk meneruskan pekerjaan di perusahaan-Anda.

Untuk itu tentunya Anda perlu berdialog dengan karyawan untuk mengetahui apa alasan utamanya keluar. Pertanyaan secara langsung biasanya tak bakal membuahkan hasil, oleh karena itu Anda harus menggunakan semacam “skenario” dalam upaya menggali informasi ter-sebut.

Mulailah dialog itu dengan menanyakan rencana selanjutnya karyawan yang mengundurkan diri itu. Biasanya, mereka yang mengundurkan diri itu sudah mempunyai “pegangan” pekerjaan selanjutnya. Bila demikian keadaannya, maka tanyakan pula seluk-beluk pekerjaannya yang baru. Bertanya tentu tidak dalam nada yang penuh curiga tetapi lebih karena Anda mempedulikan dia. Dari obrolan seperti itu maka akan ter-papar motivasi utama mengapa karyawan tersebut pindah kerja. Bisa jadi itu gaji/penghasilan yang lebih besar. Bisa karena mendapat wewenang/tanggung jawab yang lebih luas. Bisa pula karena lingkungan sosialnya yang lebih menarik. Dan bisa karena macam-macam hal lainnya.

Yang penting, Anda bisa memastikan kondisi apa yang mendorong karyawan untuk keluar. Lalu, bila Anda ingin mempertahankannya, langkah apa saja yang bisa dilakukan serta hal apa saja yang bisa ditawarkan padanya. Ini sejauh bila kondisi yang lebih baik memang bisa ditawarkan perusahaan, dan, tentunya, bila si karyawan kira-kira memang terbuka untuk offer tersebut. Bila karyawan sejak awal memang su-dah bertekad patah arang dengan perusahaan, then forget it.

Pada karyawan, utarakan bahwa kendati surat pengunduran diri sudah sampai pada tangan Anda, namun minta agar ia (karyawan) menunda dulu kepergiannya. Bisa Anda beri alasan prosedural, tetapi bisa juga Anda ungkapkan bahwa Anda akan menjajagi kemungkinan perbaikan — bila itu mungkin — agar lebih berkenan di hati karyawan tersebut. Pengungkapan hal ini tentunya tidak dalam nada minta-minta, karena akan mempunyai efek yang tidak bisa diprediksi oleh karyawan tersebut maupun pada karyawan lain, bila berita macam itu bocor. Katakan saja bahwa bagaimanapun karyawan itu masih punya obligasi — setelah sekian tahun mendapat nafkah darinya — pada perusahaan. Itu toh permintaan yang cukup fair.

Tak semua perusahaan terbuka untuk mem warkan berbagai perbaikan pada karyawan yang hendak keluar. Tetapi kalau ia memang merupakan asset perusahaan, mengapa tidak. Toh, fleksibilitas perusahaan, sebagai salah satu ciri untuk berhasil, harus pula bisa diterapkan dalam bidang kepegawaian, termasuk untuk kasus macam ini.

Selama karyawan menunda pemberlakua pengunduran dirinya itu, sebisa mungkin ciptakan suasana dan kondisi lingkungan kerja yang menarik baginya. Yang bisa membuatnya menimbang-nimbang kembali keputusannya. Tentunya ini sembari Anda benar-benar mengusahakan (dan benar-benar memperlihatkan usah tersebut) hal-hal yang telah Anda janjikan. Syukur-syukur bila berbagai “syarat” (sebenarna sih permohonan perbaikan kondisi kerja dan karyawan) yang diajukan bisa diterima oleh atasan Anda atau Direksi sehingga Anda bisa melakukan counteroffer yang berbobot pada karyawan yang hendak hengkang itu.

Terlepas dari berbobot tidaknya counteroff yang Anda ajukan, Anda telah membuktikan, si bagai atasan Anda telah berusaha maksimal memenuhi kehendak seorang anak buah yang sebetulnya sudah mau keluar. Bila Anda bisa memenuhi sebagian dari apa yang dimaui oleh anak buah tadi, berarti bahwa tidak saja Anda sebagai atasan fleksibel, tetapi perusahaan sebagai lembaga juga fleksibel… dan lebih dari itu, menghargai karyawannya yang dianggap asset karena prestasinya. Itu sendiri, terlepas dari tawaran konkret apa yang Anda ajukan, sebenarnya merupakan daya tank tersendiri bagi seorang karyawan. la akan berpikir kembali boss-nya begitu peduli akan diri dan nasibnya, perusahaan juga ternyata fleksibel terhadap karyawannya sehingga bisa menanggapi secara positif permintaan atau sebagian, paling tidak, permintaan karyawannya … masa iya tempat kerja macam ini mau ditinggalkan.

Bila sudah sampai titik ini Anda, sebagai atasan, baiknya menyiapkan sepatah dua patah kata untuk menyambut kembali karyawan yang semula hendak hengkang. “Welcome back …” adalah awal sambutan yang cukup simpati. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang Career Planning dan HR Management, silakan klik DISINI ).

Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Juli 1988.

7 Ilmu Powerful yang akan Mengubah Nasib dan Masa Depan Anda. JANGAN DI-KLIK, jika Anda sudah Merasa Sukses.

Free Slides dan Ebook

Dapatkan 7 Presentasi Wow + 5 Buku Dahsyat tentang Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!